Inflasi yang terjaga juga mencerminkan daya tahan Indonesia yang akan mendorong kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia. Hal ini harus terus dijaga dengan mengamankan momentum yang telah dilakukan pemerintah melalui deregulasi yang terus berjalan.
"Karena kalau kita bisa punya inflasi dijaga di level yang 3% dan tidak lebih dari 4%, maka kenaikan suku bunga AS tidak harus kita respons dengan kebijakan moneter. Makanya artinya pengendalian inflasi menjadi sangat penting, terutama volatile food," kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara usai Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Kamis (9/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika Indonesia bisa menjaga inflasi di angka 3-4% tahun ini, maka daya beli masyarakat dipercaya bisa tetap terjaga.
"Kalau kita menghadapi situasi seperti ini, yang harus kita lakukan adalah harga-harga seperti volatile food, harga pangan harus bisa kita kendalikan," ujar Mirza.
Hal ini dipertegas oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution. Menurutnya saat ini pemerintah akan lebih fokus menelusuri apa saja faktor yang bisa mendorong inflasi dari berubahnya harga yang diatur oleh pemerintah serta gejolak harga pangan.
Ia mengakui pemerintah akan lebih intens melalukan koordinasi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) setiap bulannya.
"Artinya ya bisa jadi tantangan nya lebih besar. Pada waktu kita akhir-akhir (tahun 2016) apa awal bulan begini inflasi sudah 0,97. Kalau sudah seperti itu kan berarti kita sudah hati-hati benar melihatnya, supaya dia jangan sampai melewati 4% tahunannya. Bahkan bukan cuma hati-hati. Tapi juga harus cermat, harus jeli melihat perkembangannya seperti apa," tukas Darmin. (ang/ang)











































