Follow detikFinance
Sabtu 11 Feb 2017, 15:35 WIB

Laporan dari Xiamen

Pengalaman Naik 'Busway Layang' di China

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Pengalaman Naik Busway Layang di China Foto: Feby Dwi Sutianto
Xiamen - Jakarta sebentar lagi akan memiliki layanan 'busway layang' (elevated) pertamanya untuk rute Ciledug-Tendean. Moda transportasi massal berbasis Bus Rapid Transit (BRT) ini, nantinya direncanakan bebas macet alias steril dari kendaraan pribadi.

Namun, jauh sebelum itu, ternyata di China sudah memiliki layanan 'busway layang' alias BRT, salah satunya berada di Kota Xiamen, Fujian. Layanan BRT dengan jalur elevated ini telah beroperasi sejak tahun 2008.

Lantas bagaimana layanan moda transportasi BRT di kota tersebut?

Di Xiamen berdasarkan situs informasi lokal whatsonxiamen.com, terdapat 7 rute (line) BRT yakni Line 1A, Line 1B, Line 2, Line 3, Line 5, Line 6, dan terbaru Line 7. Salah satu rute yang akan dibahas ialah Line 1B yang melayani Halte Diyi Matou menuju Halte Xiamen North Railway Station. Jalur (Line 1B) sepanjang 33,4 kilometer (km) ini, memiliki 21 halte pemberhentian.

Abigael Y. Sundoro, mahasiswi Indonesia di Xiamen, mengaku telah 4 tahun menikmati layanan BRT. Selama naik BRT, ketepatan waktu bisa diandalkan. Jarak antar bus relatif singkat yakni rata-rata hampir setiap 5 menit. Penumpang bisa memilih naik bus berdasarkan nomer seperti L1A, L2, atau L3. Sebelum naik bus, pastikan telah mengetahui rute dan nomer bus, atau penumpang bisa bertanya ke petugas.

"Setiap 5 menit ada terus kok," ucap wanita yang akrab disapa AB ini.

Pengalaman Naik 'Busway Layang' di ChinaFoto: Feby Dwi Sutianto

Lanjut AB, bus juga melaju cukup kencang tanpa hambatan. Meski ada beberapa jalur yang tidak layang seperti mendekati Xiamen North Railway Station, namun Ia tak pernah melihat ada kendaraan pribadi yang masuk ke jalur BRT.

"Kalau nyelonong sih enggak pernah ada (melihat), soalnya BRT punya jalur sendiri," tambahnya.

Selain bebas hambatan, AB mengaku senang naik BRT karena memperoleh diskon khusus. Alasannya, Ia memiliki kartu bus khusus untuk pelajar. Dengan kartu khusus itu, Ia cukup membayar setengah dari tarif resmi.

"Kalau pakai kartu bus untuk pelajar, dapat diskon 50%. Itu berlaku untuk bus umum sama BRT," ujarnya.

Besaran tarif BRT berbeda-beda, tergantung jarak. Menurut peraturan terbaru yang akan berlaku pada awal Maret 2017, tarif BRT akan ditetapkan mulai 1 RMB (1 RMB = Rp 1.928). Setiap penambahan 1 km setelah 5 km pertama, akan ada kenaikan biaya 0.15 RMB. Tarif tertinggi nantinya sebesar 4 RMB.

Sebagai mahasiswi internasional, AB menambahkan bila dirinya tak punya pengalaman buruk ketika naik BRT di Xiamen.

"Selama ini (4 tahun), aman-aman saja. Belum pernah ketemu pencopet atau orang jahat," jelasnya.

Pengalaman Naik 'Busway Layang' di ChinaFoto: Feby Dwi Sutianto

Dilengkapi Fasilitas X-Ray sampai Eskalator

Penasaran dengan cerita AB, saya pun menjajal layanan 'busway layang' ini. Naik dari Halte Ershi, saya berencana menuju Halte Xiamen Railway Station. Saat naik menuju halte, kebersihan tangga terjaga dengan baik. Saya memutuskan naik tangga, meskipun tersedia fasilitas eskalator.

Setelah menapaki tangga akhir, terlihat halte juga tersambung dengan pusat perkatoran.

Tak lama-lama melihat suasana halte, saya memutuskan menuju pintu masuk.

Karena sudah memiliki kartu bus multi trip alias berlangganan, jadi tak perlu antri di loket untuk membeli tiket single trip.

Sebelum masuk ke pintu elektronik (e-gate), barang bawaan harus melewati mesin x-ray. Usai diperiksa, seorang petugas wanita meminta saya untuk membuka tas.

Pengalaman Naik 'Busway Layang' di ChinaFoto: Feby Dwi Sutianto

Setelah dicek, dia melihat ada botol air minum dan meminta saya untuk mengeluarkannya. Tak sampai di sana, air dalam kemasan itu juga harus dibuka dan diminum.

"Buka botolnya dan minum sedikit," ucap petugas keamanan.

Setelah melihat saya meminum air dalam kemasan, Ia langsung mengizinkan untuk melanjutkan perjalanan melewati pintu masuk halte.

Usai menempelkan kartu bus di mesin e-gate dan melangkah masuk, rasa penasaran muncul terkait langkah petugas tadi. Ketika mengecek berita terkait BRT Xiamen, ternyata pernah ada aksi bunuh diri seorang warga lokal dengan cara membakar BRT yang ia tumpangi. Peristiwa itu terjadi pada tahun 2013.

Sambil membaca berita tersebut, kaki terus melangkah menuju area (peron) kedatangan dan keberangkatan bus. Selama berjalan, tampak kamera pengawas (CCTV) terpasang di berbagai sudut halte. Untuk mencapai area kedatangan dan keberangkatan bus, saya kembali harus menapaki anak tangga. Bagi yang lelah, penumpang bisa menggunakan fasilitas eskalator.

Pengalaman Naik 'Busway Layang' di ChinaFoto: Feby Dwi Sutianto

Saya kemudian memilih antri pada pintu keberangkatan bus berkode L1 B. Tak sampai 5 menit, bus gandeng berkode L1 B pun tiba. Suasana dalam bus saat itu cukup ramai. Bus yang berhenti dalam hitungan detik ini, kemudian melesat. Selama perjalanan, saya memilih berdiri.

Di dalam bus, terlihat peta dan arah halte yang dituju. Semua informasi mayoritas disajikan dalam Bahasa Mandarin, hanya nama halte yang ditulis dalam tulisan latin. Setelah melewati 2 halte, bus akhirnya tiba di Halte Xiamen Railway Station

Pengalaman Naik 'Busway Layang' di ChinaFoto: Feby Dwi Sutianto

Terkoneksi Stasiun Kereta Cepat hingga Bandara

Saat pintu bus dibuka, penumpang yang akan turun diberi kesempatan terlebih dahulu. Saat bersamaan, tampak beberapa penumpang membawa koper berukuran besar siap-siap untuk masuk ke dalam bus. Maklum saja, halte tersebut terkoneksi dengan stasiun kereta.

Tak hanya stasiun di tengah kota, jaringan BRT juga tersambung dengan lokasi kedatangan dan keberangkatan kereta cepat di Xiamen North Railway Station dan juga Xiamen Gaoqi International Airport. Selain itu, Halte BRT juga tersebar di area pusat bisnis, perkantoran, wisata hingga kampus.

Usai turun di Halte Xiamen Railway Station yang berada di tengah kota, saya kemudian keluar melalui e-gate, setelah terlebih dahulu menempelkan kartu bus.

Dari sana, perjalanan berlanjut menuju Xiamen University, siming Campus. Berjalan kaki menuruni anak tangga, kemudian saya sampai di trotoar. Tak jauh dari Halte BRT, terdapat halte bus kota. Karena lupa dengan nomer bus, saya membuka aplikasi bus online, Baidu.

Di aplikasi itu, saya direkomendasikan untuk naik bus nomer 57, 96, 659, 857, 122, 21 hingga 1. Tapi saya memutuskan naik nomer 21.

Pengalaman Naik 'Busway Layang' di ChinaFoto: Feby Dwi Sutianto

Setelah berhenti, pintu depan bus dengan desain low deck ini terbuka. Saya naik dan menempelkan kartu bus pada mesin tiket yang terletak di sebelah pengemudi.

Saya hanya dikenakan biaya 0.8 RMB, bila membayar cash maka tarifnya lebih mahal yakni 1 RMB. Di dalam bus, tidak ada kondektur atau petugas keamanan, namun di beberapa sudut bus terpasang kamera pengawas.

Selama perjalanan menuju Xiamen University, dari jendela bus terlihat pemandangan kota yang akan menjadi tuan rumah pertemuan negara-negara 'BRICS' pada Oktober 2017 nanti. Selain banyak taman, bus juga melewati beberapa proyek penataan kota, ada juga pekerjaan konstruksi pembangunan subway atau MRT, Xiamen Metro. Xiamen Metro Line 1 akan beroperasi pada tanggal 30 Oktober 2017.

Tak sampai 25 menit perjalanan, bus pun tiba di halte terakhir, Xiada Bus Station yang tepat berada di sebelah pintu masuk, Danan Gate (South Gate), Xiamen University. Saya kemudian melangkah keluar menuju pintu belakang. (ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed