G7 Mulai Intensif Bahas Dampak Tingginya Harga Minyak

G7 Mulai Intensif Bahas Dampak Tingginya Harga Minyak

- detikFinance
Jumat, 15 Apr 2005 11:26 WIB
Jakarta - Tujuh negara industri maju yang tergabung dalam G7 mulai Jumat (15/4/2005) ini secara intensif bertemu untuk membahas dampak tingginya harga minyak terhadap laju perekonomian dunia."G7 akan mengkalkulasi dampak kenaikan harga minyak terhadap pertumbuhan dan apakah menggangu pembangunan di masing-masing negara," kata Pejabat US Treasury John Taylor disela-sela pertemuan G7 yang akan berlangsung Jumat dan Sabtu ini sebagaimana dikutip AFP, Jumat (15/4/2005).Dikatakan oleh Taylor, kenaikan harga minyak memang akan memangkas pertumbuhan ekonomi dunia meskipun tidak akan menghentikan pertumbuhan tersebut. "Saya kira masih banyak hal yang akan menyebabkan ekspansi global akan berlanjut. Kenaikan harga minyak tidak akan menggelincirkan pertumbuhan namun memang akan sedikit mengerem," ujarnya.Taylor juga menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS tetap solid dan berlanjut demikian halnya dengan kondisi perekonomian global. "Kita akan selalu melihat meningkatnya defisit ditengah pertumbuhan ekonomi yang meningkat diantara negara G7 seperti AS dan Jerman," imbuhnya.Dalam kesempatan itu Taylor juga berharap ada perkembangan yang bagus dalam diskusi di forum G7 terutama menyangkut utang dari negara-negara miskin. AS sendiri sudah mulai memilah-milah utang yang diberikannya karena dianggap justru semakin memiskinkan negara yang diberi. Dirinya juga sangat senang jika ada kesepakatan untuk menghapus 100 persen utang tersebut."Negara-negara G8 yakni negara G7 (Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang dan AS) ditambah Rusia akan membicarakan persoalan utang ini pada pertemuan di Skotlandia Juli mendatang," tambahnya.Sedangkan menyangkut Cina, Taylor mengharapkan agar Beijing secara bertahap membuka fleksibiltas mata uangnya. "Kita terus menekan agar CIna mulai melakukan fleksibiltas mata uangnya sekarang," jelas Taylor sambil menambahkan dengan adanya pematokan mata uang Yuan Cina telah menyebabkan Industri di AS kurang kompetitif terhadap Cina. (san/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads