Amerika Serikat (AS) yang diwakili oleh USAID memberikan bantuan ini lewat 5 program. Bantuan diberikan karena sumber daya perikanan Indonesia yang mewakili sumber daya perikanan dan laut dunia dirasa penting bagi keberlangsungan pangan dunia.
"Lima program ini mendukung perikanan Indonesia dalam mengembangkan konservasi dan mendorong traceability dari seafood program sekaligus pemantauan dari satelit. Rasanya ini memperkuat peran Indonesia dalam melanjutkan pembangunan di sektor perikanan," ujar Sekretaris Jenderal KKP, Sjarief Widjaja di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Kamis (16/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program SEA yang bertujuan menguatkan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan akan dilaksanakan di 3 provinsi target, yaitu Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat dengan total pendanaan sebesar US$ 33 juta.
Sedangkan program NOAA, bertujuan memperkuat tata kelola dan ketahanan ekosistem pesisir dan laut yang berlokasi secara nasional dengan total pendanaan sebesar US$ 1,7 juta.
Untuk program SNAPPER, dengan total pendanaan sekitar US$ 3 juta, bertujuan untuk memperkuat konservasi keanekaragaman hayati laut dalam, dan menjaga keberlanjutan perikanan kakap dan kerapu di laut dalam Indonesia dengan lokasi kegiatannya di 5 provinsi utama, yakni Jawa Timur, Bali, NTT, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.
"Untuk konservasi, kita melihat area-area di Indonesia yang punya potensi yang besar dalam menjamin keberlanjutan dari sumber daya perikanan kita," tutur Sjarief.
"Kita juga melihat sumber daya ikan kita yang bisa menjadi model adalah di daerah utara seperti di Sulawesi, Maluku dan sebagainya. Kalau kita bisa menjamin buat pengelolaan ikan berkelanjutan di sana, in cooperation dengan negara-negara lain, ini bisa jadi model untuk kawasan atau dunia," tambahnya.
Keberlanjutan laut Indonesia juga akan didukung lewat kerjasama dengan Interpol untul pengelolaan perikanan dan penegakan hukum di laut. Kerja sama ini juga melibatkan berbagai instansi Kementerian/Lembaga terkait dengan total pendanaan sekitar US$ 2,3 juta.
Sedangkan untuk memperkuat kerja sama regional dalam memerangi IUU (Illegal, Unreported, Unregulated) Fishing, Indonesia juga melakukan kerja sama antara USAID dengan Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDEC). Program ini diyakini akan memberantas illegal fishing dengan ketertelusuran data di setiap titik krusial sepanjang rantai pasokan, mulai dari titik di mana ikan ditangkap hingga ke titik akhir di mana ikan dikonsumsi. (hns/hns)











































