Sri Mulyani bercerita soal banyaknya masyarakat yang khawatir atas meningkatnya utang. Menurutnya, jika dibandingkan dengan Gross Domestic Product (GDP), posisi defisit yang ditambal utang Indonesia terbilang masih sehat.
"Dalam satu dekade terakhir, kita selalu dalam posisi defisit. Rata-rata defisit kita 1,5% dari GDP, rata-rata jumlah penerimaan kita dibandingkan belanja. Apakah Indonesia senang berutang? ya enggak juga," kata Sri Mulyani di Kampus Undip, Semarang, Kamis (16/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun posisi utang per kapita Indonesia boleh dibilang lebih rendah ketimbang negara lainnya.
"Indonesia masih punya modal untuk membuat APBN yang sehat. Utang per kapita Indonesia masih kecil. US$ 997 per kepala. Bandingkan dengan Jepang utang per kapita US$ 85.635. AS setiap kepala di AS US$ 62.000," ujarnya.
Kemudian, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga membandingkan rasio utang terhadap GDP, yang juga menunjukan posisi utang Indonesia terbilang masih sehat.
"Bandingkan dengan rasio utang di beberapa negara. Tahun 2016 Indonesia dari 32% menjadi 28%. Jepang jumlah utang 2,5 kali lipat dari jumlah ekonominya, di Jepang menghadapi masalah penduduk tua. Indonesia masyarakat masih muda dan utang rendah," pungkas Sri Mulyani. (idr/hns)










































