Follow detikFinance
Senin, 20 Feb 2017 13:49 WIB

Sehari Menjajal Jalan Trans Papua yang Menembus Gunung

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Mindra Purnomo Foto: Mindra Purnomo
FOKUS BERITA Jelajah Trans Papua
Sorong - Sejak dimulainya pemerintahan kabinet kerja pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pembangunan infrastruktur jadi prioritas.

Pembangunan infrastruktur tidak lagi dimulai dari Pulau Jawa melainkan dimulai dari wilayah yang selama ini tertinggal. Salah satunya Papua.

Presiden Jokowi telah mencanangkan pembangunan Jalan Trans Papua sepanjang 4.330,07 kilometer (km) yang menghubungkan Sorong di Provinsi Papua Barat hingga Merauke di ujung Indonesia bagian Timur.
Menjajal Jalan Trans PapuaMenjajal Jalan Trans Papua Foto: Hendra Kusuma

Pembangunan Jalan Trans Papua dimulai dari preservasi atau perawatan jalan yang sudah ada selama ini, hingga pembukaan jalan-jalan baru menembus wilayah pegunungan, hutan, hingga sungai.

Jalan Trans Papua terdiri dari 12 ruas, yang masing-masing berada di Provinsi Papua (10 ruas) dan Provinsi Papua Barat (2 ruas).

detikFinance mendapat kesempatan untuk melakukan peninjauan langsung di dua ruas yang berada di Papua Barat, yakni Sorong-Kumbuaya-Manokwari sepanjang 594,81 km (Segmen I). Sementara Manokwari-Wasior-Batas Provinsi Papua sepanjang 475,81 km (Segmen II) totalnya 1.070,62 km.

Perjalanan dimulai dari titik nol km yang berada di Kota Sorong, tepatnya di Pasar Boswesen atau Gereja Immanuel, di mana jalan sudah beraspal hingga titik km 252 atau jembatan Ipaif.
Menjajal Jalan Trans PapuaMenjajal Jalan Trans Papua Foto: Hendra Kusuma

Tim memulai perjalanan sekitar pukul 12.30 WIT pada Jumat (17/2/2017) menuju Manokwari menggunakan mobil 4WD, dan baru tiba pada pukul 20.15 WIT pada Sabtu (18/2/2017).

Perjalanan dari titik nol km hingga sekitar km 50 dipadati rumah penduduk. Bahkan pada titik km 32 terdapat worskhop Dinas Bina Marga Provinsi Papua yang isinya untuk parkir alat berat dan juga laboratorium pengecekan kualitas pekerjaan jalan.

Mulai dari titik km 50 sudah masuk area hutan dan juga pegunungan. Pada saat ini pun sinyal telepon genggam hilang atau sudah tidak lagi tersambung. Susah sinyal telepon genggam mengisyarakatkan para pengguna jalan untuk menikmati alam Papua di sepanjang jalan.
Menjajal Jalan Trans PapuaMenjajal Jalan Trans Papua Foto: Hendra Kusuma

Sudah jauh dari pusat Kota Sorong, Jalan Trans Papua sudah mulai memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Terlihat sepanjang perjalanan beberapa rumah warga pun sudah berdiri di pinggiran jalan. Rumah-rumah yang berdiri pun konon merupakan warga yang selama ini terisolasi atau jauh dari jangkauan kebisingan kota, dengan kata lain terbiasa hidup di dalam hutan.

Jalan Trans Papua ini juga langsung dimanfaatkan beberapa warga sekitar untuk menjual hasil kebunnya di pinggir jalan. Warga terlihat menjual seperti pisang, umbi-umbian serta hasil kebun lainnya.

"Jadi mulai dari Kota sorong, tadi kita lewati lagi Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Maybrat, jalan mulai dari kota sorong sampai sini sudah aspal, kalau potensi sudah jelas bisa menjadi pipa minyak, kebun sawit, pipa minyak sampai dari km 18 sampai km 60," kata Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional 17 Papua Barat Ditjen Bina Marga, Yohanis Tulak, di sela-sela tinjauan jalan Trans Papua, Sabtu (18/2/2017).
Menjajal Jalan Trans PapuaMenjajal Jalan Trans Papua Foto: Hendra Kusuma

Tidak hanya itu, terdapat juga pemandangan para masyarakat yang diberdayakan untuk memelihara jalan dengan memotong rumput. Pemotongan rumput di bahu-bahu jalan dilakukan dari kampung per kampung.

Di sepanjang perjalanan, aturan wajib yang harus ditaati setiap pengendara adalah tidak boleh menabrak atau melindas binatang peliharaan warga sekitar, seperti anjing dan babi.
Menjajal Jalan Trans PapuaMenjajal Jalan Trans Papua Foto: Hendra Kusuma

Jika menginjak, kata maaf saja tidak cukup bagi warga sekitar, biasanya warga asli Papua ini menggunakan hukum adat bagi siapa saja yang melindas atau menabrak binatang peliharan. Hukumannya pun beragam, ada yang sanksi berupa denda uang, hingga tidak diperbolehkan lagi melalui jalan tempat kejadian.

Tidak sampai di situ, hukuman pun diterapkan berbeda-beda bagi hewan jantan dan betina. Hukuman yang paling berat adalah jika melindas binatang betina, hukuman denda bisa dihitung dari jumlah susu (payudara) hingga potensi bisa melahirkan berapa anak dalam satu kali proses melahirkan.

"Kalau injak, mati sudah kita tidak tidak boleh jalan berbulan-bulan," kata Tulak sambil tertawa.
Menjajal Jalan Trans PapuaMenjajal Jalan Trans Papua Foto: Hendra Kusuma

Perjalanan, kata Tulak, dapat ditempuh selama 12 jam mulai dari Sorong ke Manokwari, itu pun dengan kecepatan 80 km-100 km per jam tanpa adanya peristirahatan. Namun, rombongan kali ini melakukan beberapa kali pemberhentian, seperti di daerah Maybrat yang tengah tegang usai pelaksanaan Pilkada Serentak 2017.

Sebelum masuk Kabupaten Maybrat, rombongan beberapa kali melapor kepada petugas kepolisian setempat untuk memastikan bisa melewati kabupaten tersebut. Usai mendapatkan persetujuan dari para petugas kepolisian, rombongan akhirnya melanjutkan perjalanan, namun dalam perjalanan ada satu mobil yang diduga merupakan warga sekitar Maybrat mengikuti rombongan.

Tepat sekitar pukul 20.00 WIT, rombongan peninjau jalan Trans Papua segmen I ini langsung lontarkan beberapa pertanyaan.

"Bapak ini dari mana? Ke sini mau apa ?" tanya warga sekitar.

"Kami rombongan dari PU, mau meninjau Jalan Trans Papua," kata Wiwid salah satu pegawai Balai Dinas Ditjen Bina Marga Provinsi Papua Barat.

"Kenapa harus lewat sini?" timpal warga sekitar.
Menjajal Jalan Trans PapuaMenjajal Jalan Trans Papua Foto: Hendra Kusuma

Beberapa saat setelah dijelaskan, akhirnya warga sekitar Kabupaten Maybrat mengerti rombongan tidak ada sangkut pautnya dengan urusan Pilkada Serentak. Akhirnya rombongan pun melanjutkan perjalanan. Mengingat semakin malam, dipilihlah mess salah satu yayasan gereja di Kabupaten Maybrat sebagai tempat peristirahatan.

Di mess ini, listrik dari mesin diesel menerangi setiap kamar berukuran 2 x 3 meter dengan fasilitas hanya satu tempat tidur tingkat untuk 2 orang saja. Listrik yang diesel yang dikelola oleh warga sekitar pun hanya beroperasi sampai pukul 24.00 WIT, pada saat pergantian hari listrik otomatis mati dan pada saat itu juga rombongan mulai terlelap dan diiringi suara jangkrik.

Pagi harinya tepat pukul 07.00 WIT, Sabtu (18/2/2017), rombongan kembali melanjutkan perjalan dari titik km 246 menuju Manokwari, tepat pada titik ini menjadi permukiman terakhir desa Maybrat dan perjalanan kemudian kembali disuguhi kanan kiri hutan, tidak jarang suara burung terdengar dari kaca mobil yang melaju di kecepatan 60 km per jam.


Tulak bercerita, sepanjang jalan Sorong-Maybrat terdapat beberapa ruas jalan yang dibangun dengan bahan baku atau material lokal. Di mana, lapisan dasar jalan sebelum ditempel aspal menggunakan campuran batu kapur dari pegunungan dengan semen.

"Jadi batu kita haluskan lalu kita campurkan semen sekitar 7% semennya, lalu menjadi lapisan dasar, karena Sorong sini itu jarang sekali punya batu, jadi kita gunakan inovasi," jelasnya.

Tepat pada titik km 252 tepatnya di jembatan ipaif menjadi tanda aspal dari titik nol km terputus. Mulai dari titik ini juga perjalanan membelah gunung yang penuh tantangan dimulai.
Menjajal Jalan Trans PapuaMenjajal Jalan Trans Papua Foto: Hendra Kusuma

Tulak menyebutkan, kurang lebih 60 km ke depan jalan hanya berlapis urugan pilihan dan japat atau tanah masih mendominasi.

Pada lokasi ini perjalanan off-road baru dimulai, sebab titik ini menjadi jalan yang paling terjal karena jalan membelah pegunungan dengan ketinggian 1.001 meter di atas permukaan laut. Lokasi ini juga dikenal sebagai puncak petik bintang yang berada pada titik km 279.

Meski dibalut berbagai tantangan, sepanjang jalan di Pegunungan Petik Bintang terdapat pemandangan yang begitu indah, di mana dari atas puncak dapat melihat lekuk-lekuk jalan Trans Papua dari ketinggian, serta pemandangan gunung yang diselimuti oleh awan.

Namun, para pengendara harus lebih berhati-hati karena belum lengkapnya fasilitas jalan. Di beberapa titik ini masih ada jalan yang kanan kirinya jurang. Upaya yang akan dilakukan bisa membangun jembatan.

"Untuk titik-titik krusial di wilayah Petik Bintang ini bisa dilakukan dengan membangun jembatan, atau teknologi lain," kata Pria asal Toraja ini.
Menjajal Jalan Trans PapuaMenjajal Jalan Trans Papua Foto: Hendra Kusuma

Perjalanan terjal belum usai, setelah melewati pegunungan petik bintang, jalan terjang juga dimulai lagi dari Jembatan Kali Sisu yang sekaligus menjadi penghubung dengan pegunungan selanjut yang tidak kalah terjalnya.

Namun pada ruas ini, jalanan sudah lebih baik meskipun hanya berlapiskan urugan pilihan. Tidak lama berselang, jalanan aspal kembali dilindas kendaraan 4WD. Sekitar 20 km ke depan rombongan kembali disuguhi pemandangan yang indah, kali ini berada di Kabupaten Kebar. Hamparan rumput yang terlihat hingga kaki gunung menjadi pelarut ketegangan rombongan usai melalui terjalnya jalan membelah pegunungan.

Pemandangan tersebut kurang lebih sepanjang 15 km sebelum masuk kembali ke daerah terjal. Kali ini adalah jalan yang membelah gunung pasir. Di titik ini sama seperti pada titik di Pegunungan petik bintang dan kali sisu, material jalan hanya berupa urugan pilihan dan japat.
Menjajal Jalan Trans PapuaMenjajal Jalan Trans Papua Foto: Hendra Kusuma

Setelah berhasil melewati, jalan aspal sudah kembali menyambut rombongan hingga Manokwari. Jalan aspal sebelum tepat di pos terakhir Segmen I Trans Papua ini tepatnya setelah Kabupaten Prafi dikenal sebagai daerah transmigran. Daerah tersebut dimulai titk km 504 sampai dengan titik km 559 menjadi wilayah transmigran, yang diisi oleh masyarakat asal pulau Jawa, baik Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, lalu ada juga transmigran dari Bali, NTT, NTB, bahkan warga lokal.

Sepanjang jalan ini juga dikenal sebagai daerah tersubur. Kebanyakan para transmigran ini berkebun, berternak hingga bercocok tanam. Adapula, sebelum sampai titik km 594 di Manokwari, terdapat hamparan kebun kelapa sawit yang dimiliki oleh perusahaan pelat merah, yakni PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I-XI.
Menjajal Jalan Trans PapuaMenjajal Jalan Trans Papua Foto: Hendra Kusuma

Penampakan titik km 594 Kota Manokwari tidak berbeda jauh dengan Kota Sorong, rumah penduduk sudah padat dan banyak terlihat gedung pemerintahan.

"Lahan kelapa sawit ini milik PTPN I-XI, ada juga yang punya swasta, tapi di sini kebanyakan transmigran yang didominasi orang Jawa," ungkap Tulak.



(dna/dna)
FOKUS BERITA Jelajah Trans Papua
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed