Menurut Kepala Balai Jalan Wilayah XVIII Papua dan Papua Barat, Osman H. Marbun, butuh dana yang cukup besar untuk membangun Papua, sesuai dengan tantangan yang dihadapi.
Beberapa tantangan yang dihadapi terkait kondisi geografi dan topografi di beberapa kawasan, karena harus membelah gunung gunung, menimbun rawa, kemudian iklim yang ekstrem.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kata Osman, ada masalah keamanan, pembebasan lahan hak ulayat dan aspek lingkungan berupa kawasan konservasi alam, sampai sulitnya mendapat bahan material berupa batu pecah.
"Untuk wilayah Merauke-Tanah Merah, bahan material berupa batu pecah harus didatangkan dari Palu, Sulawesi Tenggara," katanya.
Orman melanjutkan, tantangan lainnya yang tak kalah berat adalah konflik sosial masyarakat, yang menyebabkan terganggunya pelaksanaan pekerjaan. Belum lagi terbatasnya penganggaran dan sumber daya manusia (SDM) di Papua.
Namun demikian, Osman memastikan, pembangunan jalan Trans Papua sepanjang 4.330 km akan tersambung dan fungsional pada tahun 2019. Untuk mempercepat pembangunan jalan Trans Papua, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), mengalokasikan dana lebih besar.
Untuk tahun ini, khusus di Papua, Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR mengalokasikan dana lebih dari Rp 2 triliun, dan porsinya akan terus seperti itu hingga 2019 mendatang.
"Kebijakan pemerintah saat ini dengan segala kemampuan dan keterbatasannya sudah berupaya untuk mengejar ketertinggalan (gap) antara Indonesia Timur dan Barat," ujar Direktur Pembangunan Jalan Kementerian PUPR, Gani Ghozali, di Merauke, Selasa (21/2/2017).
Baca juga: Tembus Gunung dan Hutan, Ini Jalan Trans Papua Sorong-Manokwari
Pembangunan jalan Trans Papua masih membutuhkan dana yang banyak. Dana Rp 2 triliun sangat kurang, tetapi pemerintah terus berupaya agar seluruh jalan Trans Papua bisa terkoneksi antar kabupaten.
"Pemerintah telah berkomitmen jalan Trans Papua tahun 2019 sudah akan menyambung ke semua kabupaten dan fungsional. Penanganan jalan tersebut dilakukan secara single years dan multiyears, juga ada bantuan Zipur (Prajurit TNI) membuka lokasi yang sangat sulit," tambahnya. (dnl/mkj)











































