Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Dadi Sudiana, mengatakan tingginya harga cabai tersebut tak lantas membuat petani meraup banyak untung dari penjualan cabainya.
"Untung bagaimana? Harganya naik Rp 80.000/kg di petani, tapi hasil panennya anjlok. Malahan banyak yang rugi karena ada banyak yang cabainya gagal panen, rusak karena penyakit," jelas Dadi kepada detikFinance, Selasa (21/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu kalau masih bisa setengahnya saja atau 3 ons dalam kondisi seperti, itu untung. Masalahnya kan banyak yang rusak, ada yang rusak sama sekali. Keluar modalnya sama, tenaganya lebih berat karena hujan, hasil enggak seberapa. Wajar dijual tinggi buat menutup modal," ungkap Dadi.
"Jadi kalau biasanya satu hektar bisa dapat cabai rawit 6 ton, ini karena hujan turun jadi 2 ton saja. Artinya hitungan ekonomi petani enggak dapat untung banyak," tambahnya.
Menurut dia, agar tak terus-terusan jadi masalah yang berulang setiap tahun, seharusnya pemerintah mencoba membantu petani untuk mengubah cara berbudidaya cabai.
"Harus ada perubahan teknologi budidayanya. Kalau pakai cara tradisional ya akan begini terus kalau hujan. Misalnya bantu petani pakai budidaya cabai naungan, pakai plastik UV di atasnya, di pinggir pakai plastik screen. Bibitnya juga dibantu yang standar. Ini kan belum banyak di petani, barang (plastik) juga susah," pungkas Dadi. (idr/wdl)











































