Analisa Peraih Nobel Ekonomi Soal Efek Brexit Hingga Trump

Analisa Peraih Nobel Ekonomi Soal Efek Brexit Hingga Trump

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Selasa, 21 Feb 2017 18:29 WIB
Analisa Peraih Nobel Ekonomi Soal Efek Brexit Hingga Trump
Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Pada Juni 2016 lalu, sejumlah negara di dunia sempat mengalami gejolak pasca keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau yang dikenal dengan British Exit (Brexit). Keluarnya Inggris dari Uni Eropa disepakati pasca penghitungan akhir referendum yang menunjukan lebih dari 52% pemilih menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa.

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa kemudian membuat ketidakpastian di regional Eropa dan bahkan menyebar ke regional lain. Kerja sama perdagangan antara Inggris dan negara anggota Uni Eropa juga terganggu karena tidak ada lagi kepastian yang mengikat dalam hal kerja sama, khususnya perdagangan.

Bahkan nilai tukar Poundsterling juga sempat jatuh ke level terendahnya dari Rp 19.346 ke level Rp 17.743 pada 24 Juni 2016 lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pasca Brexit Juni terjadi gejolak di beberapa negara di dunia. Begitu banyak gejolak di dunia dan sangat mengejutkan," jelas Peraih Nobel di Bidang Ekonomi Tahun 2003 Robert Fry Engle III dalam acara Bank Mega Intellectual Series bertajuk "The Prospect for Global Financial Stability" di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Selasa (21/2/2017).

Tak bertahan lama, gejolak dunia pasca terjadinya Brexit pun perlahan redup. Berdasarkan catatan Engle, gejolak akibat Brexit hanya berlangsung selama dua bulan. "Gejolak terkait Brexit hanya berlangsung sekitar dua bulan," ujar Engle.

Tak lama redup, ekonomi dunia tak lama kembali terguncang menjelang pemilu Amerika Serikat (AS). Gejolak ini bakan berdampak ke seluruh wilayah, dari Amerika Selatan, Australia, dan bahkan Indonesia.

Investor terpengaruh akan janji kampanye Presiden AS Donald Trump yang akan memangkas pajak hingga meningkatkan suku bunga AS. Dana asing di sejumlah negara berkembang pun perlahan hengkang.

"Pemilu Amerika Serikat di November memberikan gejolak khususnya di Meksiko dan sebagian besar Amerika Selatan. Asia Tenggara seperti Indonesia, Filipina, Thailand, juga India, Australia, Jepang," kata Engle.

Ditambah lagi, pasca kemenangan Trump, Meksiko diminta untuk membayar pembangunan tembok perbatasan AS dan Meksiko yang diperkirakan menelan biaya hingga US$ 21,6 miliar atau Rp 287 triliun.

"Meksiko diminta untuk membayar pembangunan tembok perbatasan tersebut," tutup Engle. (mkj/mkj)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads