Salah satu topik yang diangkat dalam pidatonya dan berhubungan Kementerian Perdagangan yakni terkait neraca perdagangan. Dirinya mengapresiasi catatan neraca perdagangan yang tumbuh positif pada 2016.
"Indonesia mencapai surplus meningkat, ini menjadi engine growth," tuturnya di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (22/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Sri Mulyani mengingatkan, surplusnya neraca perdagangan tersebut bukan berarti perdagangan di Indonesia dalam kondisi yang baik. Sebab neraca perdagangan terjadi surplus lantaran penurunan angka impor jauh lebih rendah dibandingkan dengan nilai ekspor.
"Kelihatannya surplus tapi komponennya karena ekspor walaupun negatif, tapi impornya lebih dalam. Jadi jangan bersenang-senang dulu, karena positifnya belum menunjukan ekonomi yang normal," tukasnya.
Tercatat nilai impor pada 2016 tersebut turun 4,94% dari tahun sebelumnya sebesar US$ 142,7 miliar. Penurunan tersebut lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya sebesar 3,95%. Sementara ekspor turun dari US$ 150,4 miliar di 2015 menjadi US$ 144,43 miliar di 2016.
"Oleh karena itu kalau Kementerian Perdagangan bilang neraca perdagangan bagus, enggak boleh gembira. Karena dua-duanya kontraksi," tukasnya. (mkj/mkj)










































