Ekonomi RI Tumbuh, Tapi Tantangannya Pengangguran dan Kemiskinan

Ekonomi RI Tumbuh, Tapi Tantangannya Pengangguran dan Kemiskinan

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 22 Feb 2017 21:28 WIB
Ekonomi RI Tumbuh, Tapi Tantangannya Pengangguran dan Kemiskinan
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Perekonomian Indonesia relatif stabil di tengah gejolak perekonomian global. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang masih bertahan di atas level 5%.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia memang cukup baik, namun di balik capaian tersebut masih terselip tantangan yang sangat fundamental. Tantangan tersebut yakni pengangguran dan kemiskinan.

"(Tingkat pengangguran terbuka 2016) 5,6% adalah pengangguran yang perlu diperhatikan. Sebab tingkat pengangguran tinggi tiap tahun diiringi juga munculnya angkatan kerja baru. Jadi harus dibatasi," tuturnya dalam acara Rakernas Kementerian Perdagangan 2017 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (22/2/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya pengangguran, Sri Mulyani juga menganggap kemiskinan dari sisi kesenjangan sosial menjadi tantangan berat bagi pemerintah. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat ketimpangan atau gini rasio pada September 2016 di level 0,394. Angka tersebut sebetulnya turun dibandingkan dengan Maret 2016 di level 0,397.

Menurut Sri Mulyani, masih lebarnya ketimpangan sosial di Indonesia lantaran ketidakmerataan imbas pertumbuhan ekonomi dari beberapa layer masyarakat.

"Jadi lucu di Indonesia, everybody better, tapi porsinya tidak sama. Orang kaya bisa jaga tetap kaya bahkan lebih kaya karena dia merasakan dampak pertumbuhan ekonomi lebih besar. Yang menengah juga merasakan tapi sesuai porsi. Nah yang miskin juga, tapi jauh lebih rendah. Jadi kecepatan untuk memperbaiki kehidupannya jauh lebih rendah," imbuhnya.

Sri Mulyani tak ingin Indonesia bernasib sama dengan negara-negara di wialyah Amerika Latin. Sebab kesenjangan negara-negara di wilayah tersebut sangat tinggi.

"Seperti Brasil, Meksiko, Kolombia kesenjanganya luar biasa. Kesenjangan tinggi ekonominya makin melemah, karena kemampuan solidaritasnya rendah. Seperti pemain bola di Brasil dia sampai punya tentara sendiri, polisi sendiri, pesawat sendiri, helikopter sendiri, sampai bandara sendiri," pungkasnya. (hns/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads