Sri Mulyani Bicara Kondisi Utang RI Dibanding India, Jepang, dan AS

Sri Mulyani Bicara Kondisi Utang RI Dibanding India, Jepang, dan AS

Muhammad Idris - detikFinance
Rabu, 22 Feb 2017 21:40 WIB
Sri Mulyani Bicara Kondisi Utang RI Dibanding India, Jepang, dan AS
Foto: Danang Sugianto
Jakarta - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyebut rasio utang Indonesia terhadap Gross Domestic Product (GDP) masih terbilang cukup aman. Menurutnya, meski utang bertambah, hal tersebut tak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

"Penerimaan negara enggak cukup tutup belanja negara, sehingga defisit. Tapi kalau dibandingkan negara lain dunia, dalam 10 tahun terakhir rata-rata rasio utang terhadap Gross Domestic Product (GDP) kita 1,6%," kata Sri Mulyani saat Rapat Kerja Kemendag di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (22/2/2017).

Sri Mulyani lantas membandingkan rasio utang Indonesia dibandingkan India, yang selama ini digadang-gadang sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Sri Mulyani: Negara Lebih Kaya dari RI Tidak Lepas dari Utang

"Kita dengan rasio utang 1,6% dari Gross Domestic Product (GDP) masih bisa tumbuh ekonomi 5% lebih. Coba lihat India yang orang melihat pertumbuhan ekonominya 7,5%, tapi defisit anggarannya 7,7% dari GDP. Itu artinya utangnya itu 7,7%, kalau dikali 3 tahun 21% lebih. Ini sangat berbahaya," jelasnya.

Dia melanjutkan, negara-negara maju pun saat ini mengalami masalah utang yang sangat besar. Amerika Serikat (AS) yang jadi negara ekonomi terbesar dunia, rasio utang terhadap GDP mencapai 108%.

"Kemudian Jepang yang utangin kita, utangnya lebih tinggi yakni 27% dari GDP. Perancis, Inggris, dan Jerman mengalami hal yang sama," ungkap Sri Mulyani.

Baca juga: Utang Tak Jadi Andalan Sri Mulyani Bangun Infrastruktur RI

Kondisi utang yang sedemikian besar inilah yang kemudian malah tersandera lantaran utang jadi komoditas jualan politik di negara-negara maju.

"Ada 2 cara kurangi utang, potong anggaran atau naikkan pajak, itu dua hal yang tidak disukai. Itu dipakai pemimpin politik untuk bisa menang. Bagaimana orang bisa menang dipilih kalau dia mau jualan politik memotong uang pensiun, kurangi gaji, dan naikkan pajak? Anda kalau suruh milih juga pasti tidak pilih orang mau melakukan itu," terang dia.

"Pasti akan memilih orang yang naikkan gaji, pensiun, kurangi pajak. Tapi kemudian pertanyaannya, siapa yang mau bayar itu semua, ya utang tambah terus. Indonesia masih sangat beruntung dengan utang yang sedikit, selain itu juga usia masyarakat kita masih produktif," pungkasnya. (idr/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads