Meski telah gencar melakukan hal tersebut, Susi mengaku, saat ini masih ada saja kapal asing mencuri ikan di perairan negara lain. Hal ini terbukti dari tingkat eksploitasi ikan tuna yang saat ini telah mencapai titik maksimumnya saat ini di berbagai wilayah di dunia.
"Masih banyak negara yang tidak fishing in their own water. Fishingnya di another country water," kata Susi saat ditemui di sela acara World Ocean Summit di Nusa Dua, Bali, Kamis (23/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun adanya negara-negara yang tidak melakukan hubungan bilateral dengan Indonesia membuat perhitungan data yang benar sulit dilakukan.
"Persoalannya sekarang, accountability harus ditekankan ke semua negara. Persoalannya adalah, ada beberapa masalah yang kita enggak bisa count accountability," tutur Susi.
"Ada beberapa negara yang secara bilateral, tidak bisa kita minta responsibility-nya. Contohnya Taiwan, kan kita enggak bisa secara bilateral minta. Lalu pledge (janji) komitmen konservasi setiap negara ini akan lebih ditekankan, benar atau enggak. Dilakukan atau tidak. Konsekuensinya kalau tidak lakukan apa? Karena kan ocean ini makin kurang terus. Stok tuna makin berkurang," tambahnya.
Susi sendiri akan menjadi salah satu pembicara dalam acara World Oceans Summit di Sofitel Hotel Resort, Nusa Dua, Bali. Susi dijadwalkan menjadi pembicara dalam acara ini pada Jumat (24/2) besok. Hal ini akan menjadi salah satu fokus yang diangkat dalam forum tersebut, yakni bagaimana menyeimbangkan antara pertumbuhan yang terus dipatok dari perikanan Indonesia, namun dalam koridor yang berkelanjutan.
"Kita harus balancing antara growth dan sustainability. Ini yang nanti kita bicarakan. Sekarang ini kan tidak ada konsekuensi dan sanksi (kepada negara yang melakukan IUU Fishing). Seolah-olah high seas itu tidak ada yang punya. Jadi semua pikir ya seenaknya sendiri. IUU fishing ini semua negara harus bekerja sama. Tidak bisa satu negara menyelesaikan persoalan itu sendiri," pungkasnya. (hns/hns)











































