Langkah Menteri Susi Perangi Sampah Plastik di Laut RI

Langkah Menteri Susi Perangi Sampah Plastik di Laut RI

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Jumat, 24 Feb 2017 18:19 WIB
Langkah Menteri Susi Perangi Sampah Plastik di Laut RI
Foto: Lamhot Aritonang
Nusa Dua - Isu sampah plastik di wilayah pesisir dan laut menjadi salah satu perhatian dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Menteri KP Susi Pudjiastuti mengatakan, saat ini Indonesia menyandang predikat sebagai negara penghasil sampah plastik kedua terbesar di dunia, sebuah predikat yang tak bisa dibanggakan.

Meskipun klaim tersebut belum terbukti secara ilmiah, KKP terus mengupayakan penanganan dampak sampah plastik di wilayah pesisir dan laut.

"Kalau banyak sampah, pasti banyak penyakit. Dan yang paling parah jika sampah itu sampai ke laut," kata Susi dalam pertemuan dengan Kedubes Amerika Serikat di Courtyard by Mariott Bali Nusa Dua Resort seperti ditulis Jumat (24/2/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah Indonesia sendiri ingin menggalakan Pariwisata di bidang maritim, dengan menjual keindahan baharinya. Kebersihan pun menjadi hal wajib jika ingin mengandalkan sektor tersebut.

Lebih lanjut Susi mengatakan, meski orang luar lebih tahu Bali daripada Indonesia, namun buruknya penanganan sampah di Bali akan ikut memengaruhi penilaian terhadap Indonesia secara keseluruhan. Untuk itu menurut dia, penting untuk saya mengubah sikap dan perilaku masyarakat.

"Ada partnership Amerika Serikat dengan asosiasi hotel di Bali, untuk penanganan sampah-sampah plastik. Kita berharap partnership yang nyata yang diinisiatif oleh Bapak Dubes Amerika, bisa dilakukan dengan baik dan terus digiatkan," ucap Susi.

"Kalau laut kita banyak plastiknya, tentu turis akan banyak yang pergi. Jadi Bali harus menjadi contoh pariwisata bahari yang nice, clean, beautiful dan kaya akan ragam budayanya agar turis datang dan tinggal lebih lama," tambahnya.

Susi mengaku telah mengadakan pembicaraan dengan Menteri Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya terkait penanganan sampah plastik demi keberlanjutan laut. Solusi yang diusulkan seperti membentangkan jaring yang dipasang di mulut sungai untuk mengurangi sampah dari sungai yang masuk ke laut. Lalu, membuat aturan atau Perda untuk mengatur penyelenggaraan upacara adat di laut agar tidak banyak meninggalkan sampah plastik.

"Saya menyarankan pemberian sanksi bagi mereka yang membuang sampah sembarangan. Karena di dunia ini kalau tidak ada sanksi, tidak jalan. Kita bisa contoh misalnya di Pangandaran, kalau ada yang buang sampah sembarangan didenda, dan pelapornya akan dapat 50% dari dendanya. Saya rasa itu bisa diterapkan di Bali. Buat saja pengumuman di tempat-tempat umum, sehingga tidak perlu ada lagi polisi kota. Dengan ini akan bisa mengubah sikap manusia untuk bijak memperlakukan sampah," pungkasnya.

Sampah plastik yang terurai menjadi sampah mikro-plastik, bisa mengancam ekosistem dan biota laut. Selain itu berpotensi menyebabkan tercemarnya rantai makanan oleh mikro-plastik yang dalam kondisi tertentu mengikat bahan berbahaya. Ancaman terbesar mikro-plastik adalah kontaminasi kepada biota ekosistem/habitat.

Sampah plastik yang tersangkut di perakaran mangrove dapat mencemari dan mengganggu fungsi ekosistem mangrove, dan menyebabkan kematian bibit mangrove. Selain itu, sampah yang menutupi perairan terumbu karang juga dapat meningkatkan toksisitas (kadar racun) perairan dan menyebabkan patahnya koral. Sampah juga dapat menjerat atau termakan oleh biota laut. (mkj/mkj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads