Seperti diketahui, APBN tak sanggup membiayai seluruh pembiayaan LRT Jabodebek yang totalnya Rp 23 triliun.
Baca juga: APBN Tidak Sanggupi Pembiayaan LRT Jabodebek
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KAI akan diberikan suntikan modal dari APBN sebesar Rp 5,6 triliun di tahun ini atau tahun 2018 mendatang. Secara total, pemerintah akan melakukan PMN kepada KAI dan Adhi Karya sebesar Rp 9 triliun untuk proyek LRT ini.
"Ini total Rp 9 triliun. Nanti dikurangi Rp 1,4 triliun Adhi Karya (PMN 2015) sama Rp 2 triliun PMN diterima KAI (2015) untuk sarana di Sumatera," jelas Gatot saat ditemui di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Senin (27/2/2017).
Pemberian PMN kepada KAI, lanjut Gatot, tergantung restu dari Kementerian Keuangan apakah diberikan lewat APBN tahun 2017 atau 2018 mendatang. Perlu diketahui proyek LRT Jabodebek ditargetkan rampung 2019 mendatang. Sementara Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin proyek ini rampung di akhir 2018.
Baca juga: Jokowi: Jika Tak Ada Aral Melintang, RI Punya LRT Akhir 2018
"Tergantung pemerintah siapnya. Karena ini project selesai di 2019 kan dia bisa pinjam lebih cepat untuk pendanaan kan tinggal Juni 2019 selesai," tutur Gatot.
Selain dari PMN, pendanaan untuk pembangunan LRT Jabodebek juga akan menggunakan pinjaman dari luar negeri melalui BNI, BRI, Bank Mandiri, dan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero).
Sejumlah BUMN tersebut akan mencari pinjaman dari luar negeri yang tingkat bunganya rendah. Gatot menyebutkan, pinjaman dari luar negeri bisa mencapai Rp 18 triliun yang nantinya akan digunakan untuk pembangunan LRT Jabodebek.
"Jadi tiga bank itu (BRI, BNI, Bank Mandiri) sama SMI. Harusnya sekitar Rp 18 triliunan yang belum," tutup Gatot. (wdl/wdl)











































