Investasi Saudi Untuk Saingi Iran

Investasi Saudi Untuk Saingi Iran

Sudrajat - detikFinance
Rabu, 01 Mar 2017 10:31 WIB
Investasi Saudi Untuk Saingi Iran
Foto: REUTERS/Gary Cameron
Jakarta - Selama kunjungan bersejarah Raja Salman bin Abdulaziz ke Indonesia mulai hari ini, Rabu, 1-9 Maret ada sejumlah nota kesepahaman yang akan ditandatangani.

Nilainya mencapai US$ 25 miliar atau setara dengan Rp 334 triliun. Jumlah ini jauh lebih besar dari yang didapat Malaysia sebesar US$ 7 miliar atau sekitar Rp 93 triliun. Kenapa demikian?

"Kalau saya melihatnya ini secara geopolitik tak lepas dari persaingan dengan Iran yang notabene menjadi pesaing utama Saudi," kata Peneliti Politik Timur Tengah di The Middle East Institute, Zuhairi Misrawi, saat berbincang dengan detikFinance, Selasa (28/2/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Malaysia Dapat Rp 93 Triliun dari Raja Salman, RI Dapat Apa?

Untuk diketahui, pada pertengahan Desember 2016, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan ke Iran. Dalam kunjungan itu tercapai kesepakatan sejumlah kerja sama investasi di bidang energi dan infrastruktur, serta meningkatkan perdagangan antar kedua negara. Total investasinya mencapai US$ 20 miliar.

"Fakta itu menjadi isu serius bagi Saudi dan Timur Tengah pada umumnya. Sebab sejak revolusi Iran di bawah Imam Khomeini, 1978, hubungan Saudi dengan Iran kan terus merosot," ujar Zuhairi. Lewat kunjungan Raja Salman yang membawa rombongan sangat besar dan kerja sama investasi yang nilainya sangat besar, dia melanjutkan, bisa ditafsirkan Indonesia juga punya ada kedekatan khusus dengan Arab Saudi.

"Ini isu geopolitik yang diharapkan dari dunia Arab agar Indonesia berperan menjembatani kedua negara. Iran sudah menyepakati berbagai kerja sama dengan Indonesia, maka kini Arab Saudi memastikan bahwa Indonesia juga tetap berada di sampingnya," ujarnya.

Di luar isu tersebut, menurut alumnus Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir itu, muncul kesadaran dari Arab Saudi mereka tak bisa lagi cuma bergantung pada minyak. Karena itu, aset yang mereka miliki saat ini harus disebar untuk berinvestasi di berbagai bidang di banyak negara. (jat/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads