Salah satu pelaku usaha bidang seni, khususnya seni lukis, Sidik W Martowidjojo menyebut masih kurangnya perhatian pemerintah terhadap pekerja seni. Ia menyebut, karyanya banyak dinikmati pasar luar negeri sehingga dia sering ke luar negeri untuk menggelar pameran lukisan.
Namun, saat membuka pameran di luar negeri, dia harus menggunakan uangnya sendiri. Ia mengaku harus meminjam dari bank sebagai modal untuk memasarkan karyanya di luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kan pasarnya di luar negeri. Ini saya masih punya utang di bank banyak. Pasarnya sebetulnya bagus, tapi kan pengeluarannya itu banyak," ujar Sidik, di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Kamis (1/3/2017).
Ia menyayangkan kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap pelaku industri seni rupa. Dia mendorong pemerintah untuk turut mendukung dan memprokosikan karya seniman Indonesia di luar negeri karena bagaimana pun nama negara juga turut dibawa ketika seniman ini memamerkan karyanya ke luar negeri.
"Saya keliling pameran-pameran semuanya saya bayar sendiri, pemerintah tidak ada yang dukung. Modal sendiri ya hasilnya habis malah tekor. Kita promosi Indonesia tapi pemerintah kurang perhatian. Mudah-mudahan setelah ini lah sekarang pemerintah mau mendukung," kata Sidik.
Sidik adalah pria yang lahir di Malang, Jawa Timur pada 24 September 1937. Sejak kecilnya dia mencintai seni lukis, kaligrafi, sejarah, sastra, dan filsafat baik timur dan barat.
Saat ini dia telah menggelar kurang lebih 20 pameran tunggal dan beberapa pameran di Indonesia, Singapura, Malaysia, Prancis dan lainnya. Ia mengaku paling sering pameran di Eropa dan Asia.
Meski begitu, dia mengaku pendapatannya tetap bisa membiayainya untuk menggelar pameran di mancanegara. Hal itu karena pada awalnya dia selalu didorong rekannya untuk selalu membuka pameran, jaringan, dan promosi untuk membuka pasar.
"Selama ini karena itu kita kurang memperhatikan budaya dan saya lebih khsusunya seni. Maka dalam hal ini kayaknya saya pas-pasan saja, tapi selalu bisa membiayai untuk berpameran," ujarnya.
Ia mendorong pemrintah untuk mendukung pelaku ekonomi kreatif seperti penari dan penyanyi di jalanan. Mereka yang melestarikan kebudayaan Indonesia juga harus mendapat dukungan dari pemerintah dan dunia usaha seperti pendampingan supaya bisa berkembang.
"Promosinya itu, pemerintah harus ikut, Kadin ikut. Jadi ekonomi kreatif itu lebih hidup lagi kalau tidak, ekonomi kreatif itu orang berkreatif itu tapi jualnya ke mana itu harus di bantu pengusaha untuk menghidupkan mereka. Karena pelaku ekonomi kreatif itu biasanya bukan berduit," ujarnya.
Sidik merupakan pelukis Indonesia yang pertama bisa berpameran tunggal di National Art Museum China pada 2007 lalu. Serta selama berturut-turut 2013-2014, ia telah menggelar pameran du Louvre International Art di Paris, Perancis.
Pada pameran di Louvrr di tahun 2014 lalu, para pelukis yang berasal dsri lebih 40 negara membawa lebih dari 600 karya dan setiap pelukis hanya boleh menampilkan satu atau dua karyanya. Hanya saja, Sidik dapat menampilkan 21 karyanya dan mendapatkan ruang khsusus untuk memamerkan karyanya di pameran tersebut.
Pada pameran bergengsi itu, Sidik mengusung tema Pencerahan dari Timur atau Enlighten Orientalism. Di ajang itu, dia menampilkan lukisan berjudul Jalan, yang menampilkan lukisan hitam putih swpanjang 2x7 meter yang dibuat pada tahun 2004 memperoleh penghargaan Painting Gold Prize. Ia juga memperoleh Medalle d'Orc untuk juara umum di pameran ini. (ang/ang)











































