RI Ingin Belajar Kelola MRT dari Hong Kong

RI Ingin Belajar Kelola MRT dari Hong Kong

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Rabu, 01 Mar 2017 19:44 WIB
RI Ingin Belajar Kelola MRT dari Hong Kong
Foto: Eduardo Simorangkir/detikFinance
Jakarta - Perwakilan Pemerintah Hong Kong hari ini menyambangi kantor Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Jakarta. Dipimpin oleh Sekretaris Pembangunan Wilayah Hong Kong, Eric Ma Siu Cheung, 30 perwakilan dari Hong Kong diterima langsung oleh Menteri/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro.

Pertemuan sendiri berlangsung sekitar satu jam dan tertutup. Menteri Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan, delegasi Hong Kong datang dengan tujuan ingin melihat peluang kerja sama apa yang bisa dilakukan di Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, Bambang menjelaskan berbagai skema yang dimiliki pemerintah dalam membangun berbagai proyek infrastruktur di Indonesia. Di antaranya adalah skema Pembiayaan Investasi Non Anggaran Pemerintah (PINA) dan Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan bagaimana skema ini digunakan untuk mengurangi ketergantungan belanja pada APBN dan APBD sehingga swasta dan BUMN dapat ikut berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur tanpa harus mendapat modal dari negara.

"Listnya ada dua, yaitu PPP dan PINA . Kalau PINA ada beberapa jalan tol, listrik, pelabuhan. Kalau PPP kombinasi macam-macam dari penyediaan air minum sampai mengubah sampah jadi pembangkit listrik, pelabuhan, dan lainnya," katanya di Kementerian Bappenas, Jakarta, Rabu (1/3/2017).

Meski belum ada komitmen atau kesepakatan yang dilakukan, Bambang mengatakan pemerintah tengah menjajaki adanya peluang untuk mendapatkan pembelajaran dari Hong Kong mengenai pengalamannya mengelola moda transportasi massal, MRT. Dia mengatakan, pengelolaan MRT Hong Kong yang profitable bisa menjadi transfer ilmu bagi Indonesia, yang sebentar lagi juga akan memiliki moda transportasi kereta bawah tanah tersebut.

"Kalau kita lihat subway di seluruh dunia, kebanyakan bisa hidup karena di topang oleh pemerintah, disubsidi baik tarif atau bentuk lain. Tapi di Hong Kong justru untung. Kunci keuntungannya adalah karena kemampuan mereka menggunakan skema TOD (Transit Oriented Development). TOD artinya yang membangun dan mengoperasikan kereta itu mendapatkan hak mengelola properti di sekitar MRT Station dan itu kemudian malah menguntungkan," tutur Bambang.

"Kita ingin juga belajar. Dari Hong Kong tadi juga menawarkan, mereka juga punya semacam training atau akademi bagaimana mengelola MRT yang baik karena kita mau punya MRT di Jakarta yang akan selesai 2019. Mudah-mudahan ini bisa. Ya paling tidak enggak membuat MRT ini bergantung sepenuhnya pada anggaran pemerintah," ungkapnya.

Hal ini dibenarkan oleh Eric Ma Siu Cheung. Menurutnya, Indonesia adalah negara yang sangat menjanjikan dalam berinvestasi pada saat ini, karena memiliki pertumbuhan ekonomi yang baik di antara negara-negara Asia lainnya.

"Indonesia saya rasa adalah salah satu negara yang paling cepat pertumbuhan ekonomi nya di Asia. Ada beberapa peluang di sini. Dan kami memiliki pengalaman dalam melakukan pelayanan yang profesional, kami ingin berbagi pengalaman dan mengeksplorasi peluang di sini. Jadi kami melihat potensi yang besar di sini," pungkasnya. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads