Tantangan Uber Jalankan Bisnis di Banyak Negara

Laporan dari San Francisco

Tantangan Uber Jalankan Bisnis di Banyak Negara

Maikel Jefriando - detikFinance
Jumat, 03 Mar 2017 11:05 WIB
Tantangan Uber Jalankan Bisnis di Banyak Negara
Kantor Uber di San Francisco. Foto: Maikel Jefriando/detikFinance
San Francisco - Menjalankan bisnis di lebih 500 kota dari 72 negara bukan perkara mudah. Ini juga yang nyatanya dialami oleh Uber Technologies Inc.

Berjalan cukup lama, Uber sekarang memiliki pasar yang besar dengan beragam produk. Tersebar dari negara maju hingga negara yang baru berkembang.

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah penyesuaian regulasi yang berbeda pada setiap negara, bahkan kota. Inovasi Uber dalam teknologi cenderung lebih cepat dari proyeksi regulator.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita tetap harus menjalankan bisnis sesuai regulasi," kata Andrew Salzberg, Head of Transportation Public Policy di Kantor Pusat, San Francisco, Rabu (1/3/2017).

Hal ini sangat penting, karena Uber juga melibatkan masyarakat yang menjadi pengemudi maupun penumpang. Sehingga komitmen yang harus ditempuh adalah tetap berjalan sesuai dengan regulasi.

"Di samping dengan kita mengikuti regulasi berarti kita sudah mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan bisnis," terangnya.

Tantangan lain adalah tentang penyesuaian produk dengan kota yang menyediakan fasilitas Uber. Produk antar satu kota dengan yang lain memiliki perbedaan, karena disesuaikan dengan kebutuhan.

Misalnya di Jakarta tersedia produk Uber motor tapi itu tidak ada di San Francisco. Begitu juga dengan Uber Travel yang cuma tersedia di kota yang menjadi tujuan pariwisata seperti Bali.

"Kita tentu tidak boleh salah dalam menempatkan produk," ujarnya.

Ada lagi kota yang merupakan pasar yang besar namun kepadatan penduduk dan infrastruktur dasar yang belum tersedia dengan baik. Sehingga ini bisa menimbulkan permasalahan baru, terutama dari sisi waktu.

Uber sejatinya memberikan kepastian waktu kepada pengemudi dan juga penumpang.

"Tantangan terbesar kita soal transportasi memang di kawasan Asia Pasific," terang Andrew. (mkl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads