Pertemuan G7 Tak Capai Kesepakatan Soal Utang
Senin, 18 Apr 2005 10:45 WIB
Jakarta - Pertemuan menteri keuangan negara maju yang tergabung dalam G7 yang berlangsung di Washington ternyata belum menghasilkan kesepakatan tentang upaya mengurangi beban utang bagi negara-negara miskin.Pertemuan G7 yang berlangsung pada Jumat dan Sabtu pekan lalu bersamaan dengan pertemuan IMF dan Bank Dunia secara resmi ditutup oleh Presiden Bank Dunia James Wolfensohn yang akan mengakhiri masa tugasnya pada Juni mendatang setelah menjabat selama 10 tahun. Wolfensohn akan digantikan oleh Paul Wolfowitz. Dalam pertemuan tersebut negara-negara G7 masih yakin perekonomian dunia masih akan menemukan momentumnya untuk tumbuh meskipun di bawah tekanan tingginya harga minyak, berlanjutnya ketidakseimbangan pertumbuhan dan juga masih tingginya tingkat kemiskinan di negara-negara dunia ketiga."Saya merasa sangat puas karena saya punya kesempatan untuk menjadi polisi dalam hal pembangunan dunia melalui bank ini," kata Wolfensohn dalam keterangan persnya sebagaimana dikutip dari AFP, Senin (18/4/2005).Dalam kesempatan itu Wolfensohn mengingatkan bahwa program PBB tentang ketersediaan pendidikan formal kepada seluruh anak pada tahun 2015 akan mengalami kegagalan jika negara-negara kaya tidak memberikan tambahan bantuan dana dalam pertemuan yang rencananya akan dilakukan pada September mendatang."Kita melihat hari ini negara-negara kaya dalam pertemuan kali ini tidak menunjukkan komitmennya untuk anak-anak di negara-negara berkembang," ujarnya.Sementara itu Direktur Pelaksana IMF Rodrigo Rato menyebutkan bahwa sistem keungan global mengalami gangguan akibat tingginya defisit neraca perdagangan AS, melemahnya perekonomian Uni Eropa dan Jepang serta masih belum diterapkannya fleksibilitas mata uang di Asia. Dalam pandangan IMF jika permasalahan tersebut tidak ditangani secara serius maka tidak akan ada jalan lain untuk mengurangi ketidakseimbangan perekonomian dunia. Akan tetapi baik Rato maupun juga negara-negara G7 seperti Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang dan AS melihat perekonomian dunia akan terus membaik pada tahun ini meskipun ada tekanan naiknya biaya pemenuhan sumber energi.G7 dan IMF sepakat untuk mempelopori langkah-langkah penghematan pemakaian energi dan diversifikasi dengan cara spesifik mengubah penggunaan sumber energi alternatif.Meskipun banyak hal yang dicapai kesepakatan dalam pertemuan negara G7 ini, akan tetapi tidak ada kesepakatan yang konkrit tentang penyelesaian beban utang sebesar US$ 80 miliar dari negara-negara berkembang yang bisa dipakai untuk program kesehatan atau pendidikan.Dijelaskan bahwa masalah beban utang ini akan dibahas dalam pertemuan G8 yakni negara G7 ditambah Rusia yang akan berlangsung di Skotlandia pada Juli mendatang. Negara-negara G7 salah satunya mengusulkan agar IMF menjual cadangan emasnya untuk membiayai program bantuan kemanusiaan.Namun, IMF sendiri menyebutkan ada kendala teknis untuk melakukan langkah penjualan cadangan emasnya kerana dikhawatirkan akan mengganggu kestabilan pasar di AS. Disebut-sebut negara-negara maju sangat mendukung upaya untuk memberikan keringanan hingga 100 persen dari kebutuhan kemanusiaan bagi negara-negara miskin melalui Bank Dunia dan African Development Fund. Sementara Menteri Keuangan Jepang Sadakazu Tanigaki mengingatkan dengan adanya penyeragaman pemberian keringanan utang hingga 100 persen akan mendoroang sikap tidak berhati-hati dalam melakukan pinjaman. Selanjutnya dalam rangka untuk mengurangi utang tersebut harus dipastikan adanya pinjaman yang berkelanjutan.
(san/)











































