Bursa Jepang Merosot Tajam

Hubungan Cina-Jepang Memanas

Bursa Jepang Merosot Tajam

- detikFinance
Senin, 18 Apr 2005 11:05 WIB
Jakarta - Memanasnya hubungan Cina dan Jepang berimbas pada memburuknya kinerja bursa Jepang. Selama terjadinya ketegangan yang diwarnai aksi demonstrasi selama lebih dari 2 pekan ini, Indeks Nikkei Jepang turun hampir 3 persen.Indeks Nikkei pada perdagangannya sesi pagi, Senin (18/4/2005), turun 369,48 poin pada level 11.001,21. Sementara pada Jumat akhir pekan lalu, Nikkei ditutup turun 192,48 poin atau 1,66 persen ke level 11.370,69, yang merupakan level terendah sejak 4 Februari. Sementara penurunan sebesar 1,66 persen, merupakan penurunan terbesar sejak 22 November 2004 lalu, saat Nikkei anjlok hingga 2,11 persen. Penurunan Nikkei selain dipicu memanasnya suhu politik Cina dan Jepang, juga dipengaruhi oleh melemahnya Wall Street setelah keluarnya data perekonomian AS yang menunjukkan pelemahan. Tercatat Indeks Dow Jones, pada Jumat akhir pekan lalu turun 198,41 poin atau 1,93 persen pada level 10.080,34 yang merupakan penurunan terbesar sejak 2 November 2004."Tiga hari penurunan hingga 3 digit (untuk indeks Dow Jones), adalah sangat jarang. Hal ini masih ditambah merebaknya demonstrasi anti Jepang di Cina. Saat ini hampir tidak ada sentimen positif di pasar," kata Koichi Seki, manajer ekuitas Chuo Securities, seperti dilansir AFP, Senin (18/4/2005). Saham-saham di bursa Jepang yang mengalami penurunan terutama adalah saham teknologi dan juga sektor baja. Misalnya saja Nippon Steel Corp, yang merupakan produsen baja terbesar di Jepang, sahamnya turun lebih dari 3 persen menyusul terjadinya demonstrasi anti Jepang di Cina yang membangkitkan kekhawatiran atas kelangsungan usahanya di Cina. Tercatat Nippon Steel turun 3,5 persen menjadi 250 Yen, sementara Sumitomo Metal juga turun 5,1 persen menjadi 169 Yen. Sementara dari sektor teknologi, tercatat Sony Corp turun 3,5 persen menjadi 3.900 Yen, dan Canon turun 1,6 persen menjadi 5.530 Yen.Merebaknya demonstrasi anti Jepang di Cina pada bulan ini telah merusak hubungan diplomatik dua negara ini dan juga merusak sektor-sektor bisnis. Demonstrasi ini muncul di Cina menyusul keluarnya persetujuan Tokyo atas keluarnya buku sejarah yang sama sekali tidak menyebutkan kekejaman tentara Jepang saat perang dunia kedua. Selain itu demonstran juga memprotes keras ambisi Jepang untuk menjadi anggota tetap Dewan keamanan PBB. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads