Inflasi 2017 Bakal Tinggi, Jokowi Harus Hati-hati Soal Harga BBM

Inflasi 2017 Bakal Tinggi, Jokowi Harus Hati-hati Soal Harga BBM

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 06 Mar 2017 14:19 WIB
Inflasi 2017 Bakal Tinggi, Jokowi Harus Hati-hati Soal Harga BBM
Foto: rengga sancaya
Jakarta - Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memproyeksi laju inflasi di 2017 akan berada di kisaran 4% plus minus 1% atau lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi dalam dua tahun terakhir.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri persero Tbk Anton Gunawan memprediksi laju inflasi di 2017 akan berada di level 4,2%. Penyebabnya adalah kenaikan harga-harga yang diatur oleh pemerintah (administered price).

"Termasuk listrik, sedikit tentang kenaikan biaya STNK. Sebenarnya menurut kami efeknya kok gede banget harusnya enggak segitu besar," tuturnya saat berbincang dengan para media di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (6/3/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun proyeksi Anton tersebut belum termasuk kemungkinan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sebab tren kenaikan minyak mentah dunia akan mengerek naik harga BBM dalam negeri tahun ini.

"Kita kan (proyeksi inflasi) 4,2% belum memasukan faktor BBM naik. Kalau dengan BBM naik bisa ke arah 4,5-4,7 % kita masih lihat dulu. Kalau memang itu ada," imbuhnya.

Sementara untuk pertumbuhan ekonomi tahun ini, Anton memprediksi akan berada di level 5,1%. Meski sedikit pulih, namun masih ada beberapa hambatan.

"Sedangkan dari sisi neraca pembayaran current account maupun balance of payment, masih on track atau sedikit lebih rendah dari perkirakan tahunan kita. Kita masukan 2,2% dari GDP," tambahnya.

Untuk nilai tukar rupiah, Anton memperkirakan akan berada di kisaran Rp 13.400-13.455/US$. Namun jika The Fed jadi menaikan suku bunganya sebanyak 3 kali ke level 2% ditambah dengan kenaikan suku bunga surat berharga negara AS atau US Treasury yield ke level 3% maka berpotensi mendorong rupiah ke level Rp 13.800/US$.

Akan tetapi kebijakan dari Bank Indonesia (BI) yang mewajibkan penggunaan Rupiah untuk semua transaksi di dalam negeri cukup menahan tekanan. "Terkait nilai tukar, umumnya masih inline forecast kita," pungkasnya. (mkj/mkj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads