Direktur I PJT II Jatiluhur, Sumyana Sukandar, mengatakan peningkatan laba bersih ini tak lepas dari pengembangan usaha yang dilakukan. Berbagai usaha mulai dari kelistrikan, kepariwisataan hingga penjualan air baku.
"Tahun lalu laba bersih kami (PJT II) memang meningkat cukup tajam hingga 300%. Ini pencapaian yang luar biasa," kata Sumyana dalam workshop dan media gathering di Graha Vidya, Jatiluhur, Purwakarta, Selasa (7/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun lalu (2015) sekitar 300 juta kWh dijual ke industri, tahun ini (2016) untuk industri sebanyak 600 juta kWh," jelas dia.
Penambahan kuota listrik ke industri memang memberikan profit bisnis lebih besar ketimbang menjual ke PLN. Selama ini, PJT II menjual listrik ke PLN sebesar Rp 289 per kWh dan dijual kembali oleh PT PLN sebesar Rp 1.200 per kWh.
"Sedangkan kami menjual listrik ke industri sebesar Rp 850 per kWh. Dengan begitu, kami bisa mendapat tambahan profit," kata Sumyana.
Tidak hanya usaha listrik, pendapatan pengelola Waduk Jatiluhur juga didapat dari usaha air baku, pariwisata, hingga pemanfaatan lahan dilakukan dengan cara sewa dalam waktu tertentu dan kerjasama usaha dengan pihak swasta maupun negara.
"Ini membuktikan air yang dibilang gratis, apabila dikelola dengan baik bisa menghasilkan sesuatu bernilai. Karena air merupakan sumber daya alam yang paling utama," jelas Sumyana.
Berencana Bangunan Anak Usaha PLTMH
Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur terus mengembangkan sektor bisnik kelistrikan. Salah satunya dengan mendirikan anak perusahaan pembangkit listrik yang mengelola energi baru terbarukan (EBT).
"Kita memang berencana mendirikan anak perusahaan yang ramah lingkungan dalam pengembangan EBT," kata Sumyana.
Sumyana menjelaskan rencananya pembangkit listrik itu akan memanfaatkan tenaga mikro hidro. Ada sejumlah wilayah cakupan PJT II Jatiluhur yang dipetakan memiliki potensi pengembangan mikro hidro.
"Potensi untuk mini hidro sangat banyak. Seperti di Curug, Karawang dan Subang," ungkap dia.
Dia menuturkan rencananya kapasitas pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) mencapai 1 megawatt. Besaran kapasitas itu diyakini bisa memberikan keuntungan bisnis bagi perusahaan BUMN ini.
Saat ini, kata dia, PJT II Jatiluhur masih melakukan kajian internal serta mengurus perizinan pendirian PLTMH kepada Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).
"Untuk mewujudkan ini memang tidak mudah. Selain harus melalui kajian mendalam, tetapi juga menempuh birokrasi yang panjang dan ribet," kata Sumyana. (ang/ang)










































