Pembajakan Pengrajin Sangat Merugikan Indonesia
Senin, 18 Apr 2005 17:18 WIB
Jakarta - Maraknya pengrajin Indonesia yang dibajak dan produknya diakui sebagai buatan negara pembajak sangat merugikan. Ironisnya jika Indonesia memproduksi barang yang sama harus memberi fee ke nagara tersebut.Demikian dikatakan oleh Dirjen Industri dan Dagang Kecil-Menengah Departemen Perindustrian (Depperin) Zainal Arifin usai menghadiri Munas Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Gedung Departemen Perindustrian, Jl Gatot Seoebroto, Jakarta, Senin (18/4/2005)."Misalnya pengrajin batik dari Pekalongan dan Garut, pengrajin kayu ukir dari Jepara bahkan pengrajin tempe mereka diiming-imingi kesejahteraan dan dibajak untuk bekerja di luar negeri lalu produknya dicatat sebagai hasil karya negara tersebut," ujarnya.Oleh karenanya pemerintah menggalakan program perlindungan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) untuk produk dan pengrajinnya."Solusinya agar mereka tidak dibajak adalah meningkatkan pendapatan agar tetap mau berusaha di Indonesia," jelasnya.Saat ini, lanjutnya, mencari pengrajin sangat sulit khususnya bagi produk yang bisa bersaing. Pengrajin yang karyanya sudah didaftar di HAKI ada 2.000 macam corak batik, puluhan kain tradisional, merek serta ukiran kayu. Namun untuk perhiasan saat ini belum ada.
(san/)











































