Optimisme sama dikemukakan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo. Ia mendukung pernyataan Mendag Enggartiasto, setiap negara yang menjadi anggota dari IORA merupakan pasar yang potensial bagi Indonesia. Apalagi sekitar 70% perdagangan dunia memang melewati Samudra Hinda.
Sayangnya, potensi besar ini belum tergarap maksimal, lantaran Indonesia sejak awal lebih berorientasi menjual produk ke Amerika, Asia Utara, Jepang, China, dan Eropa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Enggar mengatakan, anggota IORA yang kebanyakan merupakan negara berkembang menjadi suatu keuntungan tersendiri bagi Indonesia, karena memiliki rata-rata pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang tinggi. "Dari sisi itu kita melihat kesempatannya besar dan sejalan dengan perintah Presiden kepada kami untuk membuka pasar baru, pasar ini sangat potensial," tuturnya.
Tercatat, potensi ekspor ke Afrika mencapai US$ 550 miliar pada 2016, namun realisasi ekspor Indonesia baru mencapai US$ 4,2 miliar. Selain itu, potensi lain adalah dengan pasar Timur Tengah yang mencapai US$ 975 miliar, sementara Indonesia baru mencapai US$ 5 miliar.
Enggar melanjutkan, sejauh ini sudah ada kesepakatan dengan 21 kamar dagang negara anggota IORA dan merumuskan 11 pokok pikiran yang akan dituangkan ke Action Plan. Ia menerangkan, 11 pokok pikiran ini sebagian besar merujuk ke pemberdayaan UMKM.
Sasmito menjelaskan, selain wilayah dan pasar yang besar, variasi produk unggulan Indonesia yang bisa dijual sebenarnya juga bisa dimaksimalkan dengan menggarap pasar baru di Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika. "Produk kita ada banyak, turunan dari CPO, kopi, karet, elektronik, tekstil, buah-buahan, dan barang pecah belah. Potensi bahwa produk kita diterima negara-negara anggota IORA ada, tinggal disesuaikan apa segmennya, apakah high end, middle end, atau low end," lanjutnya.
Kata Sasmito, walaupun pendapatannya secara umum berada di bawah Indonesia, namun Afrika memiliki pasar yang besar. Sedangkan Timur Tengah, meski penduduknya tak sebanyak Afrika, tapi pendapatannya tinggi. Campuran dari kedua hal tersebut menjadi potensi yang besar buat ekspor Indonesia. "Afrika penduduknya lebih dari 500 juta, mungkin yang sudah tergarap sepertiganya sudah bagus. Misalkan sarung, itu sudah masuk Mesir dan Somalia, Nah ini perlu disebarkan ke banyak negara di Afrika," ujar Sasmito.
Dengan menggarap lebih intensif pasar Afrika, selanjutnya juga bisa berinvestasi di sana dan memproduksinya untuk pasar yang lebih luas lagi. Eropa memberikan preferensi terhadap negara-negara Afrika, yang bisa dimanfaatkan juga oleh Indonesia.
Data menunjukkan, sejak tahun 1996 sampai tahun 2015, volume dagang antara Indonesia dengan negara-negara IORA memang tercatat terus meningkat. Hanya saja belakangan terlihat lebih fluktuatif dengan neraca perdagangan yang terkadang surplus dan juga defisit.
Data UN Comtrade menyebutkan, pada 1996, surplus neraca dagang Indonesia dengan negara IORA sebesar U$S 451 juta, namun pada 2008 anjlok menjadi defisit sebesar US$ 6,3 miliar. Setelah 2009-2011 kembali surplus US$ 2 miliar, US$ 915 juta dan US$1,1 miliar, selanjutnya di 2012 sampai 2014, berturut-turut kembali defisit sebesar US$ 4,2 milar, US$ 4,9 miliar dan US$ 1,5 miliar.
Baru pada tahun 2015 neraca dagang Indonesia dengan negara-negara IORA kembal tercatat surplus sebesar US$ 2,5 miliar. Nilai surplus itu belum menyamai capaian terbesar surpus di atas US$ 5 miliar yang terjadi di tahun 1998, 2000, dan 2007.
Secara umum, sepanjang 2016, neraca perdagangan tercatat surplus US$ 8,78 miliar. Catatan surplus tersebut meningkat 14,5% dibandingkan 2015 sebesar US$ 7,67 miliar. Nilai ekspor Indonesia sendiri tercatat sebesar US$ 144,43 miliar dengan impor impor US$ 135,65 milia
Hanya saja perlu diakui, surplus neraca perdagangan tersebut bukan lantaran kinerja ekspor yang meningka drastis, melainkan karena penurunan angka impor jauh lebih tinggi dibanding penurunan ekspor. Tercatat nilai impor pada 2016 tersebut turun 4,94% dari tahun sebelumnya sebesar US$ 142,7 miliar. Penurunan tersebut lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya sebesar 3,95%. Sementara ekspor turun dari US$ 150,4 miliar di 2015 menjadi US$ 144,43 miliar di 2016.
Direktur Kerjasama APEC dan Organisasi Internasional, Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kementerian Perdagangan, Deny Kurnia, menuturkan IORA menjadi sarana untuk membangun hubungan antar pemerintahan dan pengusaha dari negara-negara yang tergabung dalam IORA menjadi lebih baik lagi.
Menurutnya, ada enam negara anggota IORA yang termasuk dalam kategori negara yang menjadi perhatian penting pemerintah Indonesia dalam hal perdagangan, yaitu Bangladesh, Kenya, Mozambik, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, dan Iran. "Berbekal daya saing perdagangan Indonesia yang menduduki peringkat 41 dunia, Indonesia berpeluang membangun kemitraan lebih erat dengan anggota IORA sebagai growing partners dan pasar ekspor ke negara-negara non-tradisional," ujarnya. (wdl/wdl)











































