Follow detikFinance
Senin 13 Mar 2017, 10:14 WIB

Updated

Kereta Bandara Pakai Gerbong Made in Madiun

Yulida Medistiara - detikFinance
Kereta Bandara Pakai Gerbong Made in Madiun Foto: Yulida Medistiara-detikFinance
Jakarta - Kereta Bandara Soekarno-Hatta akan menggunakan kereta pabrikan PT INKA (Persero), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bermarkas di Madiun.

"Kereta api bandara dibuat PT INKA, yang dibuat INKA bentuknya KRL yang dari (Stasiun) Manggarai," kata Plt Kabiro Humas kemenhub, J.A. Barata, kepada detikFinance, Senin (13/3/2017).

Jalur kereta tersebut mulai dari Stasiun Manggarai, Stasiun Sudirman, Stasiun Duri, Stasiun Batu Ceper, dan Stasiun Bandara Soekarno-Hatta.

Pernyataan ini meralat berita detikFinance yang sebelumnya ditulis bahwa kereta ke Bandara Soekarno-Hatta akan menggunakan kereta buatan Woojin dari Korea Selatan.

Menurut Barata, Woojin akan menyediakan kereta untuk jalur skytrain Bandara Soekarno-Hatta, yaitu kereta yang menghubungkan seluruh terminal bandara.

"Yang Woojin itu people mover itu automatic people mover sistem (APMS) yang skytrain, yang beredar keliling-keliling di bandara," katanya.

Kereta otomatis tanpa masinis itu bergerak secara terus-menerus mengantar calon penumpang di bandara. Ada sistem yang memantau dari jauh untuk pergerakan skytrain tersebut.

Demikian ralat ini disampaikan, detikFinance mohon maaf atas kesalahan di berita sebelumnya.


Naskah Berita Sebelum Diralat

Kereta Bandara Soekarno-Hatta akan menggunakan kereta buatan pabrikan Woojin, perusahan kereta asal Korea Selatan. Kereta ini sama jenisnya dengan kereta yang digunakan di Bandara Kuala Namu.

"Kereta buatan Korea Selatan, PT Woojin," ujar Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, di Stasiun Kereta Bandara, Bandara Soekarno Hatta, Tanggerang, Minggu (12/3/2017).

Nantinya kereta ini akan memasang tarif tidak lebih dari Rp 100.000 per orang. Budi menjelaskan, tarifnya yang mahal dikarenakan proses pembangunan dilakukan secara komersial oleh PT Railink. Berbeda dengan KRL commuterline yang dibangun oleh pemerintah menggunakan anggaran negara.

"Kira-kira batas atasnya Rp 100.000, batas bawahnya di bawah itu. Jadi dana komersial yang disediakan. saya pikir kita juga harus melibatkan swasta untuk membangun sarana prasarana kita. Kalau dari APBN tidak bisa, benar-benar PT Railink pinjam di bank dan komersial," kata Budi.

Rini mengatakan tarif ini seperti di Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara yang juga PT Railink sebagai operatornya. Di Kuala Namu, kereta bandara pertama di Indonesia tersebut memakai tenaga diesel bukan kereta listrik (KRL).

Ia mengatakan kereta bandara ini nantinya bisa menampung penumpang hingga 33.000 per hari. Atau setara 20% dari penumpang yang ke bandara setiap harinya.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, setelah Kereta Bandara Soetta yang akan dibangun oleh Railink, nantinya akan dibangun di Yogyakarta dan Solo. Serta di Padang akan beroperasi tahun ini.

"Kota berikutnya di Yogya dan Solo mulai bangun tahun ini. Padang sudah selesai tahun ini. Padang duluan, Agustus mungkin bisa mulai operasional," ujarnya. (dna/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed