Sejumlah start up yang mulai unjuk gigi di antaranya di bidang e-commerce dan transportasi berbasis online. Tak jarang, para start up ini sampai belajar ke Silicon Valley, California, Amerika Serikat (AS), tempat lahirnya banyak start up yang kemudian bertransformasi menjadi perusahaan-perusahan besar.
Bekerja sama dengan Bank DBS Indonesia, sebanyak 9 pendiri start up dari lulusan Jakarta Founder Institute (JFI) berguru ke Silicon Valley.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Startup di sana banyak yang masih kecil-kecil tapi sudah mendunia. Bahkan, beberapa di antaranya sudah bisa masuk ke pasar modal dengan IPO. Meski kecil, bukan berarti kesulitan untuk bersaing," kata Erik di Menara DBS Indonesia, Jakarta, Senin (13/3/2017).
Pengalaman lainnya, lanjut Erik, yakni start up di AS yang rupanya sudah masuk ke hampir semua ranah usaha. Kondisi ini sangat berbeda di Indonesia di mana start up besar masih bersaing sengit di pasar e-commerce. Padahal, masih banyak ceruk pasar yang belum banyak digarap perusahaan start up pemula.
"Mereka cerita ke kita sampai iri, di sana sudah hampir semua sektor ada start up, pasar juga sudah penuh. Sementara di Indonesia masih banyak sekali yang belum dimasuki," ucap Erik.
Senada, Rifki Pranoto, pendiri dari Andalin, start up ekspor impor untuk UKM, mengungkapkan di AS persaingan antar perusahaan start up, baik perusahaan besar maupun kecil, sangat ketat. Ini lantaran hampir semua sektor sudah dimasuki oleh banyak start up teknologi.
"Di sana punya pressure, segmen yang gampang-gampang di sana sudah enggak ada. Harus masuk ke yang aneh-aneh sehingga bisa diterima. Sementara di Indonesia masih sangat luas sekali," ungkap Rifki.
Sebanyak 9 orang pendiri start up dikirim ke Silicon Valley. Selain Erik dan Rifki, 7 orang lainnya yakni Antonius Stefanus (Neetip), Ary Setyo (Wssignal), Bong Defendy (Zend Money), Erikka Ferdinata (Bildeco), Gimin (3i), Indra Sjuriah (IndoGold), dan Marvinus Arif (Fishare). (idr/hns)











































