Ikut Panen di Perbatasan NTT, Mentan Dapat Gelar Adat

Ikut Panen di Perbatasan NTT, Mentan Dapat Gelar Adat

Yulida Medistiara - detikFinance
Selasa, 14 Mar 2017 15:20 WIB
Ikut Panen di Perbatasan NTT, Mentan Dapat Gelar Adat
Foto: Yulida Medistiara/detikFinance
Jakarta - Menteri Pertanian Amran Sulaiman mendapat gelar adat dari masyarakat Kabupaten Belu, Atambua, NTT saat melakukan kunjungan kerja sekaligus panen jagung dan kacang tanah di kawasan tersebut. Gelar yang didapat merupakan amana'i yang artinya adalah sesepuh.

"Hari ini ditunjuk menjadi Amana'i dari kepala adat, itu tidak sembarang. Kalau ada Amana'i itu ada perubahan kalau tidak ada perubahan itu diletakkan lagi," kata Amran, di Desa Kenebibi, Kabupaten Belu, Atambua, NTT, Selasa (14/3/2017).

Dengan adanya gelar tersebut Amran menyebut dirinya telah menjadi warga Belu yang berarti Menteri Pertanian berasal dari Belu. Ia berpesan kepada ketua adat setempat untuk terus menanam jagung dan pangan lainnya agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami jadi masyarakat Belu dan Malaka hari ini, saya juga jadi warganya Pak Gubernur NTT. Kalau tidak maju nanti Bupati itu malu karena menterinya dari NTT," kata Amran.

Saat pemberian gelar adat, Amran dipakaikan pakaian adat kabupaten Belu oleh masyarakat sekitar. Ia juga disambut tari-tarian adat setempat, tari likurai.

Bupati Kabupaten Belu, Willybrodus Lay mengatakan penyematan gelar kepada Amran merupakan inisiatif dari warga sekitar. Hal itu karena Menteri Pertanian belum pernah ada yang mengunjungi daerah tersebut.

"Saya atas nama pemerintah dan masyarakat mengucapkan terima kasih dalam kesibukan beliau masih menyempatkan diri untuk melihat kita di tepian negeri. Ini suatu peristiwa yang langka dan luar biasa. Begitu saya sampaikan berita menteri akan datang, masyarakat luar biasa antusias dan masyarakat berinisiatif pak menteri harus dinobatkan. Ini usul dari masyarakat, menurut mereka mentan belum pernah datang di daerah ini," ujar Willy.

Ia memuji Amran yang datang untuk melakukan panen jagung dan kacang tanah di Kabupaten Belu.

"Ini luar biasa bisa datang melihat hasil dari jagung dan kacang tanah. Saya laporkan bahwa jagung yang kita tanam di atas 10.000 ha dalam bentuk spot tidak menyatu," ujar Willy. (dna/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads