Gubernur BI Minta IMF Tingkatkan Kemampuan Analisisnya
Selasa, 19 Apr 2005 09:48 WIB
Jakarta -
Gubernur BI Burhanuddin Abdullah meminta dana moneter internasional (IMF) untuk meningkatkan kemampuan analisisnya dalam mendeteksi terjadinya krisis. Selain itu IMF juga diminta menyediakan fasilitas pembiayaan untuk berjaga-jaga yang sesuai dengan krisis neraca modal."IMF perlu memainkan peran yang lebih luas dalam mencegah terjadinya krisis neraca modal di suatu negara dan efek penularannya ke negara lain," ujar Burhanuddin dalam Interim Meeting IMF yang berlangsung tanggal 16-17 April 2005 di Washington, AS, seperti dikutip dari situs BI, Selasa (19/4/2005). Burhanuddin dalam pertemuan itu memimpin Delegasi Negara-Negara Asia Tenggara. Salah agenda pembahasan penting dalam pertemuan International Monetary and Financial Committee (IMFC) tanggal 16 April 2005 itu adalah arah strategis untuk memperkuat IMF dalam melaksanakan tugasnya. Tugas pokok IMF difokuskan pada menjaga kestabilan ekonomi dan keuangan eksternal serta berperan sebagai forum utama untuk kerjasama dan koordinasi dalam sistem moneter internasional. Namun demikian, cepatnya perkembangan ekonomi dan keuangan dunia, menuntut IMF untuk memperkuat kemampuannya dalam melaksanakan tugas pokoknya dalam mengatur sistem moneter internasional."IMF diminta agar terus meningkatkan efektivitas penyeliaan kestabilan makroekonomi dan keuangan negara-negara anggotanya. Selain itu, agar tim misi IMF memiliki kemampuan analisis dan komunikasi yang tinggi dengan pemahaman yang mendalam atas kondisi spesifik dari masing-masing anggotanya," kata Burhanuddin. Menurut Burhanuddin, peningkatan kemampuan analisis IMF itu dinilai penting agar nasihat kebijakan yang disampaikan kepada pemerintah lebih sesuai dan tepat dengan kondisi negara anggotanya.Gubernur BI dalam pertemuan tersebut mewakili sejumlah 12 negara Asia Tenggara, yaitu Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar, Nepal, Fiji, Tonga dan Indonesia.Pamor IMF TurunDalam pertemuan itu, Burhanuddin juga menyoroti turunnya pamor IMF di kawasan Asia khususnya dalam upaya pencegahan krisis dan penyediaan fasilitas pembiayaan yang diperlukan. Kondisi tersebut menurut Burhanuddin, nampak dengan semakin eratnya hubungan kerjasama dan penyediaan fasilitas pembiayaan untuk pencegahan krisis di kawasan ASEAN dan ASEAN+3 (Jepang, Cina, dan Korea) seperti dalam bentuk kerjasama regional dalam surveillance dan sistem deteksi dini krisis maupun dalam penyediaan ASEAN Swap Arrangement dan Bilateral Swap Arrangements.Untuk itu, sebagai perwakilan negara-negara yang tergabung dalam South East Asia Group (SEA) Group dalam konstituen IMF, Burhanuddin minta IMF untuk meningkatkan representasi kawasan Asia khususnya melalui peninjauan kembali quota di dalam IMF. Burhanuddin menegaskan, peningkatan jumlah SDM dari SEA dalam manajemen baik di tingkat pimpinan maupun staf di dalam IMF juga ditekankan agar kawasan Asia semakin terwakili dan merasa memiliki IMF dalam menentukan arah kebijakan yang berpengaruh strategis dalam sistem moneter internasional.
(qom/)










































