Jokowi menyebutkan, pada sidang kabinet paripurna akan membahas mengenai kebijakan pemerataan ekonomi.
"Selain itu juga hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi 2017 dan 2018, hambatan dan kira-kira tantangan apa akan juga kita sampaikan," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (15/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejalan dengan perbaikan ekonomi dunia, kita juga harus berani meningkatkan target pertumbuhan ekonomi pada 2018 menjadi kira-kira 5,4-6,1%," tambahnya.
"Oleh karena itu saya kira semua kementerian harus kerja keras dan melakukan langkah-langkah konkret, tidak bekerja rutininas, tidak bekerja yang monoton, bekerja linier, bekerja business as usual, ini harus ditekankan pada yang ada di bawah kita agar betul-betul langkah-langkah konkret itu ada," sambungnya.
Selanjutnya, Jokowi juga menginginkan adanya peningkatan tax rasio terhadap PDB, lalu berkaitan dengan tahun anggaran 2018 mengenai penajaman program prioritas. Sehingga, program yang dicanangkan betul-betul mendorong produktivitas dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi di Indonesia.
Untuk investasi, kata Jokowi, kapasitas fiskal Indonesia yang masih terbatas, maka investasi tidak bisa bergantung hanya pada pemerintah, melainkan harus berasal pada swasta. Di mana, 70-80% harus berasal dari BUMN dan swasta.
"Oleh sebab itu peran capex BUMN harus betul-betul ditingkatkan sehingga betul-betul bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita. Kalau ada swasta yang masuk, serahkan saja ke swasta, jangan APBN masuk, jangan BUMN masuk," tandasnya. (ang/ang)











































