RI Impor Beras di Awal Tahun 2017, Paling Banyak dari Pakistan

Muhammad Idris - detikFinance
Kamis, 16 Mar 2017 12:09 WIB
Foto: Infografis (Andhika/detikcom)
Jakarta - Meski produksi beras dalam negeri dianggap cukup, impor tak bisa benar-benar bisa dihapuskan. Beras yang diimpor adalah jenis premium atau khusus untuk kebutuhan hotel, restoran, dan kafe.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, Kamis (16/3/2017), beras impor yang masuk sepanjang periode Januari-Februari 2017 yakni sebesar 14.473 ton dengan nilai US$ 11,94 juta. Impor tersebut naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya di mana impornya tercatat sebesar 2.000 ton dengan nilai US$ 1,08 juta.

Jika dirinci per negara asal, impor beras terbesar berasal dari Pakistan sebesar 6.500 ton (US$ 2,19 juta), disusul India sebanyak 3.510 ton (US$ 1,27 juta), China sebesar 2.213 ton (US$ 7,33 juta), Thailand sebesar 1.500 ton (US$ 891 ribu), dan Vietnam sebesar 750 ton (US$ 247 ribu).

Beras impor tersebut paling banyak masuk lewat Pelabuhan Tanjung Priok sebesar 7.250 ton, Pelabuhan Tanjung Perak 5.723 ton, Pelabuhan Belawan 1.000 ton, dan Pelabuhan Bitung 500 ton.

Selain impor beras, sejumlah bahan pangan pokok impor yang masuk cukup besar sepanjang Januari-Februari 2017 antara lain jagung sebanyak 68.883 ton (US$ 15,26 juta), kedelai sebesar 591.413 ton (US$ 266,38 juta), biji gandum dan mesi 1,62 juta ton (US$ 359 juta), dan tepung terigu sebesar 10.009 ton (US$ 2,99 juta). (idr/ang)