RI Punya Kebun Luas, Tapi Kakao Masih Bergantung Impor

RI Punya Kebun Luas, Tapi Kakao Masih Bergantung Impor

Muhammad Idris - detikFinance
Jumat, 17 Mar 2017 09:20 WIB
RI Punya Kebun Luas, Tapi Kakao Masih Bergantung Impor
Ilustrasi (Foto: Hasan Alhabshy)
Jakarta - Indonesia sudah sejak lama dikenal sebagai produsen kakao, bahkan masuk sebagai produsen ketiga kakao terbesar dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Namun begitu, kondisi tersebut tak menjamin Indonesia bebas dari ketergantungan impor kakao.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance pada Jumat (17/3/2017), kakao impor yang masuk sepanjang periode Januari-Februari 2017 sebesar 31.540 ton dengan nilai US$ 84,19 juta.

Impor bahan baku cokelat ini paling besar berasal dari Kamerun dengan volume 9.593 ton (US$ 25,17 juta), Ekuador sebesar 7.125 ton (US$ 18,29 juta), Malaysia sebesar 6.399 ton (US$ 17,88 juta), Pantai Gading sebesar 5.384 ton (US$ 14,76 juta), dan sisanya berasal dari negara lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara jika dilihat dari pintu masuknya, impor kakao paling banyak masuk lewat Pelabuhan Tanjung Priok dengan volume 15.323 ton. Sementara sisanya masuk lewat Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Kabil, Pelabuhan Belawan, Pelabuhan Makassar, dan Pelabuhan Batu Ampar.

Seperti diketahui, produksi kakao nasional per tahun saat ini sekitar 450.000 ton dengan luas lahan sekitar 950.000 hektar. Sentra-sentra kakao paling besar tersebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Lampung. (idr/dna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads