Kementan dan Kemenristek Kembangkan Sapi Hingga Padi Unggulan

Kementan dan Kemenristek Kembangkan Sapi Hingga Padi Unggulan

Muhammad Nur Abdurrahman - detikFinance
Jumat, 17 Mar 2017 17:07 WIB
Kementan dan Kemenristek Kembangkan Sapi Hingga Padi Unggulan
Foto: Muhammad Nur Abdurrahman/detikFinance
Makassar - Setelah berhasil melakukan riset di bidang pertanian, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) juga akan memberikan hasil riset bidang peternakan pada Kementerian Pertanian.

"Padi, jagung dan kedelai sudah mapan, tahap berikutnya masalah peternakan, kami ingin sapi lokal yang ada selama ini bisa memproduksi daging yang lebih banyak. Selama ini, sapi lokal kita hanya bisa menghasilkan rata-rata 250-300 kilogram, dari riset kami lakukan bisa menghasilkan 1 ton daging dengan umur yang sama, 3 sampai 4 tahun, ini hadir karena inovasi," ujar Menristek Dikti Muhammad Nasir, Jumat (17/3/2017) dalam acara Temu Informasi Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Peningkatan Produktivitas dan Percepatan Swasembada Jagung di Kawasan Timur Indonesia di Makassar, di kampus UMI Makassar.

Nasir menambahkan saat ini pihaknya tengah melakukan riset untuk menyiapkan sapi indukan lokal yang tidak kalah kualitasnya dengan sapi jenis eksotik atau sapi limousin. Pihaknya nanti akan bekerja sama dengan Kementan dan perguruan tinggi terkait di seluruh Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Nasir, sebelumnya jajaran peneliti di Universitas Trunojoyo Madura telah berhasil mengembangkan varietas unggulan jagung hibrida Madura. Selain itu, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) telah mengembangkan kedelai mutiara dan Kemenristek juga berhasil membuat pusat riset kopi dan kakao terbaik di dunia yang terletak di Jember, Jawa Timur.

Nasir juga mengatakan, mereka sudah melakukan inovasi yang bisa menghasilkan padi unggul, yang tadinya kapasitas produksi hanya 6 ton, bisa mencapai 10-12 ton.Tidak hanya itu, kerja sama Kemenristek dan Kementerian Pertanian sudah menghasilkan salah satunya padi varietas unggul IPB-3S yang sudah dikembangkan di sejumlah daerah seperti Indramayu dan Nusa Tenggara Timur.

Sementara menurut Mentan Amran Sulaiman, saat ini ada separuh lahan pertanian dalam negeri, atau sebanyak 4 juta hektar lahan tadah hujan yang hanya ditanami sekali setahun. Namun kalau ditanami 2-3 kali setahun dengan membangun embung atau cekungan penampung air hujan, maka akan terjadi peningkatan petani Indonesia di kisaran Rp 100-200 Triliun/tahun.

"Sesuai arahan bapak presiden, untuk membangun Embung, maka akan tercipta peningkatan pendapatan petani hingga Rp 200 triliun, ini kita kerahkan bersama Kemenristek dan Kementerian Desa," pungkas Amran.

Dalam kegiatan ini turut hadir Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Rektor Universitas Hasanuddin Dwia Aries Tina, Rektor UMI Masrurah, serta anggota konsorsium perguruan tinggi negeri se-Indonesia Timur. (mna/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads