Selain Permintaan Tinggi, Ini Penyebab Lain Kenaikan Harga Cabai di Bulan Puasa

Selain Permintaan Tinggi, Ini Penyebab Lain Kenaikan Harga Cabai di Bulan Puasa

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 19 Mar 2017 13:01 WIB
Foto: Hendra Kusuma/detikFinance
Jakarta - Harga cabai rawit merah yang sebelumnya meroket tinggi kini mulai menurun. Pasokan yang mulai berlimpah mampu meredam kenaikan harga cabai.

Namun sekitar 2 bulan lagi mulai masuk bulan Ramadan. Biasanya hampir seluruh harga komoditas pangan termasuk cabai meroket pada bulan suci tersebut. Jika pasokan mencukupi hinggi Ramadan, apakah harga cabai tetap berpotensi naik?

Menurut Bandar Cabai di Pasar Induk Kramat Jati Diky Alamsyah penyebab pergerakan harga cabai di Ramadan hampir sama dengan bulan-bulan lainnya yakni perbandingan pasokan dan permintaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun ada yang unik, biasanya di awal Ramadan pasokan cabai hampir pasti menurun dari beberapa wilayah. Hal itu lantaran adanya ritual kepercayaan yang dilakukan oleh sebagian orang ketika menyambut bulan puasa.

"Itu sebenarnya hanya triger kebiasana di daerah. Biasanya di daerah Jawa kalau jelang puasa ada nyekar, ada mandi dan lain-lain. Itu biasanya 3-4 hari jelang puasa banyak rutinitas. Nah itu membuat petani enggak petik cabai. Itu yang menjadi kendala. Biasanya juga kalau hari pertama puasa mereka malas kerja, jadi pasokan juga menurun," terang Diky saat dihubungi detikFinance, Minggu (19/3/2017).

Untungnya menurut Diky, para konsumen juga biasanya berbelanja sebelum memasuki Ramadan. Mereka belanja dengan jumlah yang banyak sebagai stok untuk minggu pertama bulan puasa .

"Itu jadi kebiasaan-kebiasaan yang terjadi saat bulan puasa," imbuhnya.

Diky mengaku belum bisa memprediksi kenaikan harga cabai di bulan puasa. Sebab harga cabai sangat fluktuatif dan banyak sentimen yang mempengaruhinya.Apalagi kebutuhan cabai di bulan Puasa pastinya meningkat.

Kendati begitu, dia harap pasokan cabai akan terus mengalir memenuhi pasar. Sebab ada beberapa wilayah seperti Garut dan Sulawesi mulai memasuki masa panen di April mendatang.

"Saat ini memang setiap hari terus turun. Kita tidak tahu sampai di ambang mana penurunannya. Ini tidak kita bisa prediksi. Tapi walaupun permintaan meningkat kalau pasokannya juga memenuhi kenaikannya tidak akan besar, paling 10%," tandasnya. (dna/dna)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads