Berdasarkan data Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), biaya investasi untuk membangun jalan tol ini mencapai Rp 2,6 triliun, sudah termasuk biaya pembebasan lahan senilai Rp 990 miliar.
Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman mengatakan, jalan tol tersebut memiliki nilai strategis bukan hanya bagi masyarakat dalam rangka mempercepat akses mobilitasnya, tetapi juga kalangan dunia usaha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanpa ada penambahan akses jalan yang memadai, sambung dia, dikhawatirkan pesatnya pembangunan kawasan justru akan menimbulkan masalah baru.
"Tentu dengan perkembangan kota-kota ini maka populasi juga bertambah. Dan bertambahnya populasi akan berkorelasi positif terhadap demand barang dan jasa. Dengan bertambahnya permintaan, maka jumlah kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan pun bertambah. Jika lalu-lintas padat, jalanan macet, maka proses distribusi barang akan tersendat alias tidak efisien," kata dia.
Ketidakefisienan inilah yang akhirnya memicu terjadinya tambahan biaya. Ujung-ujungnya harga barang akan menjadi mahal.
"Karena proses distribusi dan logistik juga akan semakin mahal. Oleh karena itu, kami Aptrindo sangat mendukung adanya penambahan ruas tol baru. Ini artinya bisnis juga semakin efisien, kebutuhan masyarakat bisa dengan cepat dan kontinyu dipenuhi. Ujungnya ekonomi daerah juga berkembang," terang Managing Director Lookman Djaja Group itu.
Menurut Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia itu, jika pertumbuhan wilayah dan populasi yang ada di dalamnya itu tidak diimbangi akses jalan yang lancar, tetapi macet dan bahkan stuck, maka pengeluaran ongkos bahan bakar naik.
"Akan terjadi pemborosan pengeluaran untuk BBM. Subsidi pemerintah terbuang percuma, dan biaya logistik naik. Dengan begitu, perkembangan wilayah dan aktifitas ekonomi masyarakatnya tidak berdampak banyak ke ekonomi secara nasional atau regional.Jadi tol Kunciran –Serpong sangat penting, apalagi bagian dari JORR II," kata Damaningtyas.
Jalan tol kunciran serpong merupakan bagian dari Jakarta Outer Ring Road II (JORR II).
Pekerjaan konstruksinya sendiri akan dibagi dalam 2 seksi pekerjaan. Pengelola jalan tol atau Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang punya tanggung jawab pembangunannya adalah PT Marga Trans Nusantara yang sahamnya dimiliki oleh 3 investor yankni PT Jasa Marga sebesar 60%, PT Astratel Nusantara 30%, dan PT Transutama Arya Sejahtera sebesar 10.
Catatan saja, jalan tol ini semula ditarget mulai dibangun konstruksinya pada tahun 2013. Namun lantaran proses pembebasan lahannya tersendat, proses pembangunnya pun tak kunjung bisa dimulai.
Dengan kondisi saat ini yang proses pembebasan lahannya sudah mencapai 85%, diharapkan pembangunan konstruksi jalan tol ini bisa segera dimulai dalam waktu dekat. (dna/dna)











































