Pasalnya, Amerika Serikat (AS) dengan kebijakan Presiden Donald Trump menginginkan perdagangan yang berkeadilan tetapi sesuai dengan kebutuhan AS sendiri yang tidak selalu sama dengan kebutuhan internasional.
Untuk menyiasati itu, pada pertemuan tingkat pimpinan negara G20 selanjutnya pada Juli di Jerman pemerintah akan mengingatkan kembali tentang komitmen perdagangan internasional seperti yang dikerjakan bersama-sama seperti sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagi Indonesia, untuk bapak Presiden akan menyampaikan apa kemajuan ekonomi Indonesia dan harapan Indonesia dalam kerja sama kebijakan ekonomi internasional, Indonesia negara terbuka dan selama ini melihat ekspor sumber pertumbuhan Indonesia, kita harap internasional trade akan tetap terbuka sehingga kita bisa lakukan perdagangan internasional berdasarkan tingkat competitiveness kita," ujar Sri Mulyani, di kantornya, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Rabu (22/3/2017).
Ia mengatakan, Indonesia akan mengambil ancang-ancang menyiapkan diri mengantisipasi hal tersebut dengan menjaga perdagangan domestik maupun luar negeri. Tentunya juga menjaga konsumsi, investasi, maupun belanja pemerintah.
Sri mengatakan, Indonesia akan membuka pasar ekspor baru karena masih banyak peluang pasar diantara anggota G20 selain AS. Indonesia juga akan memperkuat hubungan bilateral dengan negara lain, sambil melihat kesempatan pendekatan ke pasar Amerika Serikat.
"Kita akan berharap Indonesia sesuai dengan (instruksi) Presiden buka pasar baru, masih banyak sekali peluang di antara negara anggota G20 non Amerika, kita memiliki perdagangan secara langsung yang cukup banyak, kita tentu harus perkuat banyak sekali hubungan bilateral perdagangan yang masih open. Bahkan dengan AS pun kita akan tetap melihat opportunity, namun belum pasti apa persisnya kebijakan perdagangan yang akan diambil AS," ungkap Sri. (ang/ang)











































