Ekonomi RI Bisa Tumbuh 5,3%, Ini Syaratnya

Ekonomi RI Bisa Tumbuh 5,3%, Ini Syaratnya

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Kamis, 23 Mar 2017 21:10 WIB
Ekonomi RI Bisa Tumbuh 5,3%, Ini Syaratnya
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2017 menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,1%. Namun ternyata, Indonesia memiliki peluang untuk bisa melampaui target tersebut.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, jika ekspor Indonesia bisa tumbuh positif tahun ini, dengan asumsi konsumsi dan investasi yang terus dijaga, maka tak salah jika menginginkan pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mencapai 5,3%.

"Jadi asalkan ekspornya 0 atau mendekati 0,5% saja, tidak negatif, karena 3 tahun terakhir ekspornya negatif terus, pertumbuhan ekonomi itu bisa di atas 5,1% yaitu 5,2% atau bahkan 5,3%. Itu dengan catatan, ekspornya tidak negatif lagi, karena dia bisa mengurangi posibilitas kita untuk tumbuh," katanya dalam rapat kerja dengan DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (23/3/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diketahui, ekspor Indonesia selama 3 tahun terakhir kerap mengalami tekanan seiring dengan melemahnya harga-harga komoditas.

Sri Mulyani mengatakan, jika melihat dari sisi permintaan, konsumsi masyarakat saat ini menyumbangkan sekitar 57-58% dari GDP. Jika bisa dijaga tetap tumbuh di angka 5%, maka bisa menanggung cukup besar stabilisasi pertumbuhan ekonomi.

Hal inilah yang menjadi alasan kenapa stabilisasi harga sangat diharapkan, karena sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan menjaga daya beli masyarakat. Apabila daya beli masyarakat bisa terjaga dari gerusan inflasi yang tidak terlalu tinggi, maka konsumsi dapat menopang perekonomian untuk tumbuh.

"Karena kalau konsumsi bisa tumbuh mendekati 5% atau di atas 5%, maka pertumbuhan ekonomi kita akan terjaga di angka 5%, karena dia menjelaskan hampir 60% dari total," tutur Sri.

Aspek lainnya yang menopang pertumbuhan ekonomi adalah investasi. Investasi sulit tumbuh lantaran sektor perbankan mengalami tekanan yang cukup kuat karena harga komoditas yang turun, dan membuat perusahaan yang meminjam kepada bank mengalami kredit bermasalah. Namun dengan pertimbangan neraca perbankan yang semakin pulih, dan bonds korporasi berkembang, maka investasi dipercaya bisa lebih tinggi.

"Kalau bisa mencapai 8%, maka kita bisa akan tumbuh mendekati 6% dalam growth kita," jelas Sri Mulyani.

Pemerintah dalam hal ini tentu juga berkontribusi karena melalui fiskal juga melakukan stimulus. Portofolio kondisi fiskal negara yang menjadi bagian dari kepecayaan investor akan membuat ekonomi bisa tumbuh lebih berkelanjutan dan lebih tinggi.

"Jadi pada akhirnya growth ini akan tergantung pada tiga hal ini. Konsumsi, investasi dan government spending," pungkasnya. (dna/dna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads