Sebut saja Brasil, Rusia, Argentina, Nigeria, Turki hingga Afrika Selatan yang terpuruk dalam beberapa waktu terakhir.
"Pada 2016 kita berhasil tumbuh 5,02%. Ada sedikit momentum naik setelah sempat turun," ujarnya dalam kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa ITB, Jumat (24/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia sudah cukup berpengalaman ketika menghadapi shock baik di pasar keuangan maupun komoditas," terangnya.
Kuatnya ekonomi RI ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Masyarakat Indonesia yang masih memiliki kemampuan untuk belanja membuat ekonomi tetap tumbuh. Porsinya mencapai 59% dari total ekonomi. Pada 2016 mampu tumbuh sekitar 5%.
Selanjutnya adalah investasi, porsinya hanya 22% akan tetapi masih bisa tumbuh 6,8%. Belanja pemerintah porsinya memang kecil, akan tetapi menjadi stimulus awal sebelum konsumsi dan investasi tumbuh. Apalagi ketika situasi ekspor dan impor negatif alias tidak tumbuh.
"Ekspor impor kita masih negatif seiring dengan kondisi dunia juga mengalami perlambatan," ujar Sri Mulyani.
Bila dilihat dari sisi produksi, maka sektor yang mampu untuk tumbuh tinggi adalah jasa-jasa dan komunikasi. Peertumbuhannya bisa mencapai kisaran 8-10%.
"Kalau bicara produksi, maka sektor yang tepat adalah yang mampu penciptaan kesempatan kerja yang besar, misalnya perdagangan berlandaskan IT, manufaktur berbasis teknologi. makanya butuh diversifikasi," tukasnya. (mkj/dna)











































