Meski sudah menyelesaikan kajian awal, namun pemerintah harus mendetailkan kembali kajian tersebut sebelum benar-benar masuk tahapan selanjutnya, yakni feasibility study (FS).
Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Prasetyo Boeditjahjono, mengungkapkan bahwa FS akan dimulai pada Mei 2017. Dana untuk FS sebesar Rp 40 miliar telah disiapkan di APBN. Ditargetkan FS selesai dalam 7 bulan pada November 2017.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
FS atau studi kelayakan akan dilakukan oleh BPPT, PT Kereta Api Indonesia (KAI), dan para ahli dari luar negeri.
"Ada BPPT, jadi ada expert lokal, ada expert dari luar negeri. Bolehlah KAI di situ oke," ucapnya.
Ia menambahkan, ada kemungkinan kereta ekspres yang digunakan menggunakan mesin diesel karena biayanya lebih murah.
"Kita inginnya kereta listrik tapi mungkin juga diesel dulu supaya tidak terlalu mahal," kata Prasetyo.
Sejauh ini belum ada perubahan rencana soal kecepatan kereta, masih di bawah 200 km/jam.
"Belum, belum ada perubahan rencana, tetap masih di bawah 200 km/jam," tutupnya. (mca/dna)











































