Namun masalah tak lantas tuntas, karena beras berkualitas rendah tersebut rentan mengalami kerusakan saat disimpan. Dari bau apek, berjamur, hingga mudah hancur pada saat penggilingan.
Mengatasi masalah ini, Amran mengaku punya cara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses pengeringan, kata Amran, harus diambil alih oleh pemerintah karena bila dilimpahkan ke petani maka beban yang harus mereka tanggung menjadi besar.
"Kita yang melakukan pengeringan. Kita yang punya inisiatif, jangan petani bergerak sendiri. Setelah beli kita keringkan. Kalau tidak dikeringkan, ini (gabah) akan rusak," sambung dia.
Amran tak merinci detil dari mana mesin pengering tambahan akan didatangkan, berapa jumlahnya dan berapa anggaran yang disiapkan. Namun Amran menjelaskan, bahwa pihaknya akan melakukan sinergi dengan sejumlah instansi pemerintah untuk melakukan pengadaan mesin pengering gabah tambahan.
"Ini kita berjalan. Jadi BUMN dan Kemendag, Kemendes PDT bersinergi untuk dryer ke depan," tandas dia.
Sekedar informasi, dengan tingginya curah hujan, gabah yang dipanen pada musim ini memiliki kandungan air yang tinggi mencapai 26-30%. Padahal kadar air idel pada gabah adalah sekitar 14% untuk menjamin kulitas beras yang dihasilkan juga bermutu tinggi. (dna/mca)










































