RI Akan Kebanjiran Tekstil dari Cina, Taiwan dan Korea

RI Akan Kebanjiran Tekstil dari Cina, Taiwan dan Korea

- detikFinance
Rabu, 20 Apr 2005 15:02 WIB
Jakarta - Mulai Juli-Agustus, Indonesia akan segera dibanjiri teksil dan produk tekstil (TPT) dari Cina, Taiwan dan Korea. Ribuan kontainer TPT yang kualitasnya jauh lebih baik akan membanjiri Indonesia lewat Singapura. Hal tersebut diungkapkan Ketua Komite Perdagangan Grosir Asosiasi Pertekstilan Indonesi DKI Jakarta, Heris M, usai seminar tentang strategi marketing di PRJ, Jakarta, Rabu (20/4/2005).Heris menambahkan, hadirnya ribuan kontainer TPT itu sangat meresahkan para produsen TPT lokal Indonesia. Dan diperkirakan dalam waktu sebulan, sekitar 10 persen produsen TPT akan tutup. Heris mengakui, dalam setahun ini, penyelundupan TPT sudah sangat marak. Bardasarkan pengamatan Heris, di tanah Abang yang dulunya omset TPT bisa mencapai Rp 150 miliar per hari, saat ini untuk tekstil anjlok 70 persen dan garmen anjlok 60 persen. "Kami menginginkan pemerintah menaikkan bea masuk impor 100 persen, agar impor berkurang dan juga pengawasan bea cukai maksimal. Bekerjanya jangan pura-pura tidak tahu ada penyelundupan," tegas Heris.Ia menambahkan, orientasi peningkatan ekspor TPT oleh pemerintah merupakan persepsi yang salah. Alasannya, hal itu akan berdampak produksi dalam negeri hanya bisa memasok ke dalam negeri sebesar 30 persen dan 70 persen menjadi peluang importir membanjiri Indonesia. Pematenan ProdukBerkaitan dengan pematenan produk terkait maraknya pembajakan produk kerajinan tradisional, Heris mengatakan sebaiknya pemerintah melakukan tindakan konkrit. Menurut Heris, pada pengrajin sebaiknya mematenkan produk-produk mereka. Hal senada dikatakan pengamat ekonomi dari Indef Aviliani, yang menyatakan seharusnya ada program nasional pematenan produk agar hasilnya lebih optimal. "Karena pemerintah masih kurang sosialisasi sehingga pengusaha berpikir berbelit belit, mahal dan ketakutan akan pajak," ujarnya. Namun pernyataan itu dibantah oleh Bachrul Chairi, sekretaris Sesditjen Perdagangan Dalam Negeri Depdag, yang mengaku program pematenan sudah berjalan dalam 3 tahun dan sudah ada ratusan produk tradisional yang dipatenkan. Menurut Bachrul, mestinya para produsen tidak berpikir pematenan seperti mendaki gunung lagi karena pematenan bukan hal yang susah dilakukan. "Ini sudah menjadi hal yang mudah dan biasa. Tingal daftar ke Depkeh HAM, isi formulir," demikian Bachrul. (qom/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads