Dalam paparannya di depan orang nomor satu Prancis tersebut, Susi membeberkan bagaimana dampak pemberangusan kapal pencuri ikan di Indonesia berimbas pada merosotnya ekonomi sektor perikanan negara lain.
Thailand contohnya. Menurut Susi, sebelum adanya pemberantasan illegal fishing di Indonesia, pertumbuhan ekonomi dari sektor perikanannya surplus 15%, namun kemudian anjlok menjadi minus 3%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang sama, kata dia, juga terjadi pada China. Sebelumnya Negeri Panda itu menyandang predikat sebagai eksportir hasil laut terbesar dunia, tapi kemudian malah lebih banyak jadi importir hasil perikanan.
"China sebelumnya jadi eksportir ikan sea food terbesar dunia, sekarang malah jadi importir sea food. Dua tahun pemberantasan illegal fishing membuat stok ikan Indonesia naik dari 6,5 juta ton jadi 9,9 juta ton," ujar pemilik maskapai Susi Air ini.
Soal peluang kerja sama maritim dengan Prancis, Susi menyebut, kedua negara sama-sama memiliki laut terluas di dunia. Apalagi Prancis sudah jauh lebih maju dalam hal pengelolaan laut, termasuk dalam hal menjaga ekosistem laut.
"Kita melihat kekhasan dari Indonesia dan Prancis punya wilayah laut yang sama-sama luas. Dan kita lihat punya kebutuhan yang sama, bahwa konservasi, sustainability, dan food security adalah hal yang harus berjalan bersama. Tadi ada pertukaran teknologi yang sudah dilakukan beberapa departemen Indonesia dan Prancis," tandas Susi. (ang/ang)











































