Demikian diungkapkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam Seminar Ekonomi Makro di Kantor PT Astra Internasional Tbk, Jakarta, Senin (3/4/2017).
Namun tingginya pertumbuhan ekonomi ini menimbulkan masalah baru karena belum diikuti dengan pemerataan. Ada ketimpangan, muncul jurang antara orang kaya dan orang miskin akibat pertumbuhan ekonomi yang tidak merata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenaikan gini rasio dari 0,35 menjadi 0,41. Semakin mendekati 1 itu ekstrim, semakin mendekati 0, dia akan merata," kata Sri Mulyani.
Baca juga: Sri Mulyani: Cuma China dan India yang Bisa Kalahkan RI
Kesenjangan di Indonesia memang belum separah di negara-negara Amerika Latin, tapi tanda-tanda menuju ke sana sudah mulai terlihat.
"Negara-negara latin amerika di atas 0,5, Brasil bisa mencapai 0,6 sebelum Presiden Lula. Jadi di sana orang kaya bisa punya heli sendiiri, tapi sekitarnya kumuh. Indonesia belum mencapai ke situ, tapi tanda-tanda muncul," ucapnya.
Masalah ini harus segera diatasi. Jika tak segera ditangani pemerintah, situasi sosial bisa rusak, sulit untuk merajut kembali persatuan di masyarakat jika kohesi sosial sudah hilang. "Begitu social cohesion hilang, menjahitnya akan susah. Once it is destroyed itu akan merusak keseluruhan Indonesia," tegasnya.
Karena itu, pemerintah menyiapkan program-program pemerataan untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi. Pengentasan kemiskinan juga terus diupayakan. Tingkat kemiskinan yang sekarang mencapai 10,7% ditargetkan bisa tutun hingga di bawah 10% tahun ini.
"Gini rasio itu tidak hanya soal pendapatan, tapi juga antar pulau dan provinsi. Tantangan kita mengentas kemiskinan yang 10,7%, ini masih tinggi, harus single digit," tutupnya. (mca/mkj)











































