Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 03 Apr 2017 13:17 WIB

Ingin Maju, Sri Mulyani: RI Harus Tinggalkan Sumber Daya Alam

Michael Agustinus - detikFinance
Foto: Maikel Jefriando-detikFinance Foto: Maikel Jefriando-detikFinance
Jakarta - Ekonomi Indonesia terus tumbuh. Dalam 1 dekade terakhir, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,7% per tahun. Tingkat kemakmuran masyarakat pun meningkat.

Sekarang pendapatan per kapita penduduk Indonesia sudah mendekati US$ 4.000/tahun. Kini Indonesia sudah masuk sebagai negara berpendapatan menengah.

Tetapi Indonesia harus waspada, jangan sampai masuk 'middle income trap' alias jebakan negara berpendapatan menengah, yaitu situasi yang dihadapi sebuah negara saat negara tersebut tidak mampu meningkatkan perekonomiannya menuju 'high income countries'.

Demikian diungkapkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam Seminar Ekonomi Makro di Kantor PT Astra Internasional Tbk, Jakarta, Senin (3/4/2017).

Sri Mulyani mengungkapkan, dari sekitar 190 negara di dunia, hanya sedikit yang bisa lolos dari middle income trap.

Korea Selatan (Korsel), Singapura, Taiwan adalah beberapa negara yang berhasil menggenjot terus pendapatannya hingga di atas US$ 15.000/kapita/tahun dan masuk sebagai negara berpendapatan menengah ke atas.

"Dari 190 negara di dunia, hanya sedikit yang bisa escape dari middle income trap. Misalnya South Korea, Singapore, Taiwan. Mostly (negara berpendapatan menengah) bisa naik dari US$ 5.000 sampai US$ 10.000. Tapi jarang yang sampai US$ 15.000-20.000," ujar Sri Mulyani.

Baca juga: Sri Mulyani: Cuma China dan India yang Bisa Kalahkan RI

Berkaca dari Korsel cs yang kini sudah masuk jajaran high income countries, mereka melakukan berbagai perubahan besar sehingga tak masuk perangkap middle income trap.

Mulai dari pemberantasan KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), perbaikan birokrasi, meningkatkan kemudahan berbisnis, kebijakan ekonomi yang tepat, dan sebagainya.

Langkah-langkah ini patut ditiru Indonesia supaya bisa lebih maju. "Apa sih trap-nya? Institusinya lemah, KKN, pilih kasih, based on system tapi personal connection. Ekonomi harus based on good policy and system. Ease of doing business ditingkatkan," paparnya.

Selain itu, Indonesia harus mengembangkan sumber-sumber perekonomian yang baru. Jangan cuma mengandalkan komoditas mentah, harus ada nilai tambah.

Indonesia harus beralih ke industri pengolahan, teknologi, juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia. "Kita harus beralih dari sumber daya alam ke teknologi dan sumber daya manusia," tutupnya. (mca/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed