Harga Pangan Tinggi, Tapi Nilai Tukar Petani RI Turun 0,38%

Harga Pangan Tinggi, Tapi Nilai Tukar Petani RI Turun 0,38%

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Senin, 03 Apr 2017 15:05 WIB
Harga Pangan Tinggi, Tapi Nilai Tukar Petani RI Turun 0,38%
Foto: Ahmad Rahman
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) nasional di bulan Maret 2017 turun 0,38% dibandingkan bulan Februari 2017, yakni dari 100,33 menjadi 99,95. Penurunan NTP ini disebabkan indeks harga hasil produksi pertanian mengalami penurunan lebih besar dari penurunan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga atau keperluan produksi pertanian.

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat kemampuan daya beli petani di perdesaan atau menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

"NTP bulan Maret 2017 kurang menggembirakan yakni 99,95, atau di bawah 100. Artinya kalau di bawah 100, harga yang dibayar petani lebih tinggi dibanding yang diterima," kata Kepala Badan Pusat Statistik, Suharyanto di Gedung BPS, Jakarta, Senin (3/4/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Maret 2017, secara nasional indeks harga yang diterima petani turun sebesar 0,39% dibanding Februari 2017. Hal ini disebabkan turunnya indeks harga yang diterima petani di seluruh subsektor, mulai dari tanaman pangan sebesar 0,75%, tanaman hortikultura sebesar 0,23%, tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,31%, peternakan sebesar 0,19%, dan perikanan sebesar 0,07%.

Hal ini juga diikuti oleh turunnya harga gabah kering panen di tingkat petani sebesar Rp 4.373/kg, atau turun 5,74%. Penurunan juga terjadi di tingkat penggilingan, yakni sebesar 5,71% menjadi Rp 4.460/kg.

Dibandingkan Maret 2016, harga gabah kering panen di tingkat petani dan gabah kualitas rendah turun masing-masing 7,02% dan 2,24%. Begitu pula di tingkat penggilingan, terjadi penurunan harga masing-masing 6,75% dan 2,53%.

Sedangkan indeks Harga yang Dibayar Petani, harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, khususnya petani mengalami penurunan sebesar 0,01%.

Penurunan disebabkan turunnya harga yang dibayar petani di dua subsektor, yakni tanaman pangan sebesar 0,04% dan peternakan sebesar 0,08%. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads