Saat membuka rapat, Jokowi menekankan perlunya program-program untuk mendorong pengembangan industri pengolahan supaya Kalsel tak terus menerus bergantung pada komoditas mentah.
Hasil-hasil tambang dan perkebunan di Kalsel harus diolah supaya bernilai tambah. Industri pengolahan juga membuka lapangan kerja lebih luas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi meminta pembangunan Kawasan Industri Jorong dan Batulicin serta infrastruktur-infrastruktur penunjangnya dikebut agar industri pengolahan bisa berdiri di Kalsel.
"Untuk mempercepat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di Kalimantan Selatan, saya minta pembangunan Kawasan Industri di Batulicin dan Kawasan Industri Jorong segera harus segera terealisasi dan pembangunan 2 kawasan industri ini pasti memerlukan dukungan infrastruktur penunjang, seperti akses ke kawasan tenaga listrik, air bersih, dan yang tidak kalah pentingnya adalah terpadu, terintegrasi dengan pelabuhan yang ada," paparnya.
Pertumbuhan ekonomi Kalsel yang pada 2016 mencapai 4,38%, lebih tinggi dibanding tahun 2015 yang hanya 3,84%, cukup melegakan. Tapi Jokowi ingin pertumbuhan ekonomi di Kalsel lebih stabil dan berkelanjutan. Ke depan, Kalsel tak boleh hanya menghasilkan barang mentah sepert batu bara, CPO, karet. Harus bisa membuat yang bernilai tambah.
"Saya melihat bahwa ketergantungan perekonomian Kalimantan Selatan pada ekspor komoditas bahan mentah, terutama pertambangan menyimpan sebuah kerentanan. Data yang saya miliki memperlihatkan 20,87% perekonomian Kalimantan Selatan berasal dari kontribusi sektor pertambangan," tukasnya.
"Untuk itu ketergantungan pertambangan harus sedikit demi sedikit dikurangi dengan menggeser ke arah pengembangan sektor unggulan seperti pertanian, kehutanan, perikanan, serta industri pengolahan. Nah yang paling penting yang terakhir tadi industri pengolahan artinya bahan bahan mentah yang ada di sana harusnya bisa diarahkan untuk masuk ke industri pengolahan," tutupnya. (mca/hns)











































