Pada 30 Maret 2017 lalu, ribuan peternak ayam menggelar aksi demo di Istana Merdeka, Jakarta. Para peternak yang tergabung dalam Sekretariat Bersama Aksi Penyelamatan Peternak Rakyat dan Perunggasan Nasional (PPRPN) ini, mengeluhkan harga ayam hidup (broiler) dan telur yang anjlok sejak 2013 lalu.
Harga ayam yang fluktuatif dan cenderung lebih sering di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) membuat banyak peternak rakyat gulung tikar. Menurut Sekber PPRPN, hal ini lantaran ada kelebihan pasokan ayam dan telur yang diproduksi perusahaan integrator.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait hal ini, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, memerintahkan Dirjen Peternakan untuk segera turun tangan menstabilkan harga ayam dan telur supaya tak merugikan peternak rakyat, tapi juga terjangkau konsumen.
"Saya minta Dirjen Peternakan, ayam dan telur tolong dikontrol. Harga ayam sekarang sudah mulai stabil, bahkan jatuh terlalu rendah," kata Amran, ditemui di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (17/4/2017).
Masalah ini dinilai Amran cukup serius. Jajarannya di Ditjen Peternakan Kementan harus sigap menanganinya, turun langsung ke lapangan dan mencari solusi bersama peternak.
"Saya minta diurusi, saya minta turun tangan. Enggak boleh setengah-setengah. Jaga ketat," tegasnya.
Ke depan, Amran berharap komunikasi antara peternak rakyat dengan pihaknya bisa lebih baik. Aspirasi, keluh kesah, kesulitan peternak harus cepat ditangkap sebelum jadi masalah besar.
"Ditjen Peternakan, peternak baru mau demo, datangi, harus mendengar di tengah rakyat," tutupnya. (mca/wdl)











































