Hal itu berawal dari hasil pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Menurutnya, pertemuan ini membuat banyak negara bisa bernafas lega mengenai arah kebijakan ekonomi AS.
Apalagi ketika Trump menarik ucapan yang pernah dilontarkannya pada masa kampanye pilpres. Salah satunya soal pernyataannya mengenai China sebagai negara yang sengaja melemahkan nilai tukar yuan terhadap dolar AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Trump Jilat Ludah: China Bukan Tukang Manipulasi Mata Uang
Meski demikian, Sri Mulyani mengungkapkan kekhawatirannya akan persoalan baru yang muncul di Asia, yakni dari Korea Utara.
"Kalau positif terjaga maka ketidapastian dari luar akan terkelola. Meskipun sekarang adalah terjadi eskalasi mengenai hubungan yang berhubungan dengan policy Korea Utara. Situasi ini akan menimbulkan suasana terutama di Asia," tutup Sri Mulyani.
Di samping itu, Sri Mulyani juga memantau perkembangan ekonomi China. Di mana pada kuartal I-2017, China tumbuh 6,9%. Apalagi China adalah mitra dagang utama Indonesia.
"Kita akan terus memantau tentu saja perkembangan perekonomian dunia terutama yang memiliki pengaruh langsung kepada ekonomi Indonesia dan juga yang bisa berpengaruh langsung kepada APBN," terangnya. (mkj/mkj)











































