RI Didesak Keluar dari OPEC
Minggu, 24 Apr 2005 15:19 WIB
Jakarta - Indonesia didesak segera keluar dari keanggotaan OPEC karena selama ini sudah menjadi net-importir minyak. Langkah ini diyakini lebih terhormat dibandingkan jika tetap bertahan di OPEC."Bila kita tidak keluar dari OPEC sementara produksinya hanya 942.000 barel per hari di bawah kuota OPEC 1,4 juta bph, maka itu sama juga kita membuat malu," kata Direktur Eksekutif Masyarakat Energi dan Mineral Indonesia (MEMI) A Supriyatna di Jakarta, Minggu (24/4/2005).Menurutnya keluarnya Indonesia dari OPEC bukanlah merupakan sebuah aib atau menjadikan Indonesia seolah-olah telah kalah dan jatuh jelek namun justru akan menjadikan Indonesia semakin terpacu agar kembali bekerja keras untuk meningkatkan produksinya.Mestinya, lanjut Supriyatna, Indonesia berkaca kepada negara-negara kaya minyak seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Aljazair, Qatar, Kuwait , Iran, Irak dan Venezuela. Produksi OPEC yang saat ini mencapai 27,5 juta barel per hari maka posisi Indonesia memang sudah tidak relevan lagi di OPEC."Kelak bila Indonesia sudah bisa memenuhi kembali kuotanya maka tidak ada salahnya untuk kembali ke OPEC. Jadi kita melihatnya dari sisi kepatutan saja dan untuk apa cuma nampang nama anggota OPEC tapi tidak ada kontribusi yang signifikan," jelasnya.Sebelumnya dalam suatu dokumen hasil pertemuan tingkat menteri yang melibatkan Menkeu, Menteri ESDM dan Menlu, pemerintah Indonesia tengah memikirkan meninjau ulang posisinya di OPEC. Indonesia berencana menurunkan statusnya di OPEC dari anggota menjadi sekadar peninjau. Namun sejauh ini keputusan soal tersebut belum final.
(san/)











































