Proyek pembangunan bendungan Karalloe dimulai sejak 2013, namun sempat terkendala pembebasan lahan di Kecamatan Biringbulu dan Kecamatan Tompobulu, sebelum ada kesepakatan dengan Bupati Gowa dan warga pemilik lahan.
"Saya harapkan bendungan Karalloe bisa selesai sebelum tahun 2020, saya tunggu site plan terbaru dalam dua minggu ke depan, kita harus bekerja cepat dan maksimal, rakyat sudah merelakan tanahnya, kita harus bekerja keras dan profesional mengerjakan proyek ini," ujar Basuki di hadapan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, Rabu sore kemarin (19/4/2017).
Bupati Gowa Adnan tidak mempermasalahkan peruntukan bendungan mengaliri irigasi daerah lain, yakni Kabupaten Takalar dan Kab. Jeneponto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum meninjau bendungan Karalloe, Menteri Basuki bersama Gubernur Syahrul, melakukan peresmian pengalihan aliran sungai Gillireng ke proyek bendungan Passeloreng di Kabupaten Wajo.
Peninjauan proyek bendungan Karalloe dihadiri juga Irjen Kementerian PUPR Rildo Ananda, Dirjen Sumber Daya Alam Imam Santoso dan Kepala Balai Sungai Pompengan Jeneberang Agus Setiawan.
Bendungan Karalloe dibangun dengan anggaran Rp 518 miliar di atas lahan seluas 215 hektar. Diperkirakan bendungan ini akan mengaliri areal persawahan sekitar 10 ribu hektar, penyediaan air baku 440 liter/detik dan pembangkit listrik tenaga air sekitar 4,5 Megawatt. (dna/dna)










































